Kota Semarang, Bimas Islam -- Fenomena astronomi yang diprediksi terjadi pada tahun 2026 hingga 2027 menjadi perhatian serius Kementerian Agama (Kemenag). Dalam memastikan ketepatan penetapan kalender hijriah, Kemenag menggelar Forum Falak Nasional di Kota Semarang, Jumat-Minggu (29-31/8/2025), dengan tujuan mencari titik temu antara warisan fikih dan capaian sains modern.
“Perkembangan teknologi modern telah membuka cakrawala baru dalam dunia rukyatulhilal. Namun, integrasi dengan prinsip fikih tetap menjadi prioritas agar umat mendapatkan kepastian dan ketenangan dalam menjalankan ibadah,” ujar Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, saat ditemui di sela acara, Sabtu (30/8/2025).
Teknologi dan Tradisi Observasi Hilal
Forum ini mengulas penggunaan teleskop digital, citra Charge-Coupled Device (CCD), serta perangkat lunak simulasi hilal yang kini mampu menghadirkan akurasi tinggi, dokumentasi rapi, dan validitas data yang kuat. Teknologi tersebut dinilai memperkaya tradisi observasi yang telah diwariskan sejak masa klasik.
Meski demikian, penerimaan teknologi dalam kerangka fikih masih beragam. Sebagian ulama menegaskan bahwa kesaksian mata manusia tetap wajib sesuai hadis tentang rukyat, sementara pihak lain menilai instrumen modern dapat menjadi alat sahih untuk memastikan visibilitas hilal. Perbedaan pandangan ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menetapkan awal bulan melalui sidang isbat.
Hisab: Fondasi Kalender Nasional
Penetapan hisab awal bulan Kamariah tidak hanya berdampak pada ibadah, tetapi juga pada keteraturan administrasi nasional. Data hisab menjadi dasar penetapan kalender nasional dan hari libur resmi melalui SKB Tiga Menteri. Ketepatan hisab dengan demikian menjadi kebutuhan strategis yang menyangkut harmoni antara dimensi religius dan dimensi kebangsaan.
“Momentum tahun 2026 dan 2027, termasuk fenomena gerhana, menuntut kepastian perhitungan. Hisab bukan sekadar angka-angka, tetapi instrumen ilmiah yang harus diuji, diverifikasi, dan diproyeksikan dengan teliti,” lanjut Arsad.
Sinergi Ilmiah dan Keagamaan
Kemenag menekankan pentingnya sinergi antara ahli falak, lembaga keagamaan, dan pemerintah untuk memastikan kalender hijriah tetap sahih dan otoritatif. Kesalahan dalam penetapan awal bulan dapat mengganggu ibadah umat sekaligus menimbulkan ketidakteraturan administrasi nasional.
Forum Falak Nasional ini menjadi platform bagi para ahli dan otoritas keagamaan untuk membahas harmonisasi antara teknologi dan prinsip fikih. Pendekatan ilmiah dikombinasikan dengan kajian fikih diyakini mampu memberikan kepastian yang dibutuhkan umat, sekaligus menjaga ketertiban sosial.
Fn/Mr



