Padang, Bimas Islam -- Kepala Biro UIN Imam Bonjol Padang, M. Fuad Nasar, memaparkan delapan kunci utama agar dakwah yang dilakukan para Penyuluh Agama Islam dapat memberi dampak yang nyata dan relevan bagi masyarakat. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Evaluasi Kinerja dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama Islam Provinsi Sumatera Barat yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, di Padang, Jumat (20/6/2025).
Menurut Fuad, penyuluh agama memiliki peran strategis sebagai laboratorium pencerahan agama di tengah masyarakat. Oleh karena itu, mereka perlu memperhatikan perkembangan zaman, perubahan sosial, serta merujuk pada kajian para ahli di bidang ilmu sosial. Pemahaman terhadap konteks sangat menentukan efektivitas dakwah yang disampaikan.
“Perlu kita sama-sama gali bagaimana memposisikan penyuluh agama di tengah-tengah masyarakat. Penyuluh agama adalah laboratorium pencerahan agama,” ujarnya.
Fuad menjelaskan, penyuluh harus terus meningkatkan kualitas pengalamannya dalam memahami ajaran agama. Perubahan sosial dan dinamika tata nilai perlu direspons secara kontekstual agar ajaran agama tetap relevan dan mampu menjawab tantangan zaman. Pembinaan mental dan spiritual juga menjadi hal penting, mengingat masyarakat saat ini dihadapkan pada berbagai tekanan yang dapat menimbulkan kerapuhan.
“Angka bunuh diri dan stres di Indonesia masih lebih rendah dibanding Jepang, karena masyarakat kita masih punya agama dan nilai-nilai. Tapi kita harus terus mengantisipasi agar masyarakat memiliki ketangguhan,” kata Fuad.
Ia menekankan pentingnya penyuluh untuk menanamkan kesadaran moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Penyuluh agama harus hadir dalam mengatasi krisis moral dan sosial yang muncul, termasuk penyimpangan perilaku. Karenanya, pengembangan karakter bangsa juga tak boleh diabaikan. Penyuluh diharapkan mendorong masyarakat untuk tetap memegang nilai moral dan spiritual, terlebih di tengah gempuran teknologi digital yang menjadikan dunia seolah berada dalam genggaman.
“Dunia sekarang ada dalam genggaman. Ini sumber manfaat, tapi juga bisa jadi sumber mudarat. Penyuluh harus mampu mengedukasi umat agar menggunakan alat komunikasi secara bijak,” tegasnya.
Fuad juga mengungkapkan pentingnya meningkatkan toleransi antarumat beragama, membina keluarga yang bersendikan nilai agama, serta mendorong kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Menurutnya, kesejahteraan bukan semata soal pendapatan dan pengeluaran, tetapi juga menyangkut kebahagiaan yang dirasakan dan ketenangan dalam menyongsong masa depan. Ia turut mengingatkan pentingnya kepedulian terhadap pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa dakwah harus dilakukan dengan hikmah, pengajaran yang baik, serta dialog yang sesuai dengan karakter masyarakat. Strategi dakwah harus disesuaikan dengan peta dakwah masing-masing wilayah, baik di perkotaan maupun pedesaan.
“Dakwah harus membawa pengaruh positif. Al-Qur’an mengajarkan bahwa dakwah dilakukan dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan diskusi yang sesuai dengan karakter sasaran dakwah,” jelasnya.
Fuad juga menekankan pentingnya literasi dan verifikasi informasi sebelum disampaikan dalam ceramah. Ia mengingatkan agar penyuluh tidak hanya menyebarkan informasi yang bersumber dari pesan berantai di media sosial tanpa telaah mendalam. Penyuluh harus memahami isu-isu lokal maupun global, serta mampu menyikapi persoalan secara arif.
“Jika penyuluh tidak memahami persoalan secara substansial, maka ceramah bisa menimbulkan kebingungan bahkan menyesatkan,” tambahnya.
Sebagai penutup, Fuad mengingatkan bahwa tolok ukur keberhasilan dakwah bukan diukur dari banyaknya aktivitas penyuluhan, tetapi dari sejauh mana masyarakat semakin dekat dengan agamanya. “Sebagaimana disampaikan Menteri Agama, tantangan kita adalah membuat umat semakin dekat dengan agamanya. Jika umat menjauh dari agama, berarti dakwah kita belum berhasil,” pungkasnya.
Mr



