Jakarta, Bimas Islam -- Marliana, Penyuluh Agama Islam di KUA Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, meraih penghargaan Lifetime Achievement Penais (Penerangan Agama Islam) Award 2025 yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama. Ia dikenal sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya bagi kelompok marjinal.
“Dari awal saya menjalankan tugas sesuai aturan penyuluh di bidang keagamaan. Setelah keliling desa, ternyata banyak warga kurang mampu yang harus kita perhatikan. Di situlah titik saya memulai di bidang ini,” ujar Marliana kepada wartawan, Sabtu (30/8/2025).
Dari Buruh Bangunan hingga Jadi Sosok Inspiratif
Perjalanan hidup Marliana tidak lepas dari kisah perjuangan. Latar belakang keluarga miskin membuatnya memahami betul penderitaan masyarakat. Semasa kuliah, ia bekerja sebagai buruh bangunan dan berjualan sayur untuk membiayai pendidikannya.
“Dulu saja waktu kuliah saya jadi buruh bangunan dan jualan sayur demi biaya kuliah. Makanya kalau melihat orang yang sakit, saya tidak sanggup dan berusaha membantu,” ucapnya.
Program Bedah Rumah dan Sekolah Gratis
Dedikasi Marliana tampak dari berbagai program sosial yang ia jalankan. Hingga kini, sebanyak 54 rumah warga miskin berhasil ia renovasi melalui program bedah rumah, dengan empat rumah lainnya masih dalam proses penyelesaian bulan ini. Dana program tersebut dihimpun dari para pengusaha, anggota DPR RI, perusahaan, pemerintah daerah, Baznas, hingga dana pribadinya.
Selain itu, Marliana juga mengelola sekolah gratis yang sudah berjalan selama 28 tahun, terdiri dari TK di pagi hari dan TPA di sore hari. Ia bahkan membuka kelas bahasa Inggris gratis yang telah berjalan empat tahun di majelisnya.
Merangkul Anak Yatim dan Mualaf
Kepedulian Marliana juga menjangkau anak yatim dan mualaf. Saat ini, terdapat 52 anak yatim dalam binaannya, termasuk dua anak yang menimba ilmu di pondok pesantren sambil menghafal Al-Qur’an. Sementara itu, ada 70 kepala keluarga mualaf yang mendapatkan bimbingan keagamaan serta bantuan kebutuhan dasar.
“Kegiatan bantuan untuk masyarakat miskin, lansia, dan anak yatim selalu berjalan. Begitu juga ketika ada banjir, kami selalu terdepan memberikan bantuan,” tuturnya.
Tidak hanya di bidang sosial, Marliana juga berperan sebagai penengah dalam konflik warga. Upayanya menjaga harmoni sosial mendapat apresiasi karena mampu menciptakan kedamaian di tengah masyarakat.
Penghargaan Lifetime Achievement Penais Award 2025 menjadi pengakuan atas dedikasi yang ia jalankan selama puluhan tahun. Namun, bagi Marliana, penghargaan itu bukan tujuan utama.
“Selama masyarakat membutuhkan, saya akan terus berjuang,” tegasnya.
Di tengah kesenjangan sosial yang masih lebar, sosok Marliana menjadi bukti bahwa keikhlasan dan aksi nyata mampu menghadirkan harapan dan perubahan. Pengabdiannya tidak hanya berfokus pada pengentasan kemiskinan, tetapi juga penguatan keimanan dan persaudaraan di tengah masyarakat.
Fn/Mr



