Aceh, bimasislam- Berkunjung ke Aceh, selalu saja menjadi sebuah perjalanan yang mahal dan berharga. Arti kata mahal dan berharga tentu tidak dimaksudkan dalam pengertian yang materialistik, melainkan dalam kadar pemaknaan yang psikologik atau mungkin spiritualistik.
Jamak diketahui bahwa ada dua peristiwa besar yang pernah menerpa kota seribu masjid ini, pertama adalah peristiwa konflik selama 30 tahun dan kedua berupa ujian musibah tsunami di tahun 2004 silam. Dalam perang setiap pihak adalah korban, begitu pula musibah yang disebabkan alam.
Lantas bagaimanakah kondisi Aceh selepas melewati dua ujian besar itu?
Dari sisi pembangunan fisik dan infrastruktur, tanah rencong ini setelah 13 tahun tsunami, kemajuannya tergolong pesat. Beberapa fasilitas publik, seperti gedung pemerintahan, pusat-pusat perbelanjaan, sekolah-sekolah, pasar, masjid-masjid kini sudah dapat berdiri tegak dan dapat dinikmati oleh masyarakat dengan apik dan nyaman..
Pada sisi yang lain, kondisi psikologis terutama pasca konflik dan tsunami, masyarakat Aceh terlihat lebih damai, tegar dan tenang. Hal-hal positif ini kemudian menjadi tolak penting dalam mengantarkan sikap optimisme guna menyongsong kehidupan yang lebih baik, di masa mendatang.
Akhir-akhir ini masyarakat Aceh sedang asyik-asyiknya merayakan kebangkitan dunia literasi Islam. Dunia kepustakaan, seakan menjadi ruh baru yang menjanjikan mimpi-mimpi indah, kembalinya sebuah peradaban.
Kunjungan bimasislam pada pertengahan Desember lalu, yang secara khusus menuju Kantor Wilayah Kementerian Agama Islam Provinsi Aceh, sedikit banyak menemukan jejak-jejak mahal dan berharga itu.
Adalah sosok Kakanwil Kemenag Provinsi Aceh Muhammad Daud Pakeh, dalam suatu obrolan pembuka dengan tim bimasislam, di ruang kerjanya, Rabu (20/12) mengajak untuk menyaksikan trailer dari Film berjudul “Cahaya di atas Bukit”. Siapa yang yang menyangka bahwa sosok Kakanwil yang sebenarnya berusia tidak lagi muda itu justru turut muncul dalam adegan dialog di dalam layar visual tersebut.
Dengan ringannya Pakeh berkata, “Ini adalah ikhtiar awal kami dalam menyampaikan dakwah Islam di masyarakat Aceh”. Tak banyak respon yang keluar dari wajah pemirsa, selain decak kagum dan bangga.
Tak selesai dengan sapaan ringan, Kakanwil yang telah menjabat sejak tahun 2015 itu sejurus kemudian memperkenalkan sebuah karya lainnya. Kali ini berupa sebuah Buku Ilmu Falak karangan ulama Aceh Tgk. Abdullah Ibrahim yang berlaqab Abu Tanjung Bungong.
“Ini adalah buku karangan Ulama Aceh, yang sengaja diterbitkan oleh Kemenag Aceh sebagai upaya dukungan dan apresiasi kepada Ulama Dayah, dalam memupuk kembali spirit peradaban Islam khusunya di Aceh,” ujar Pakeh.
Dijelaskan oleh Pakeh, bahwa buku yang berjumlah 162 halaman ini merupakan panduan yang bisa dibaca oleh mereka yang ingin mengetahui tentang arah kiblat dalam ranah kajian fiqh. Selain, tentu saja lanjut Pakeh, diperuntukan pula bagi mereka yang ingin mengetahui kedudukan hisab dalam kajian fiqh mazhab Syafi’i.
Dari penjelasan ringkas Kakanwil Kemenag Aceh tentang ihwal diterbitkannya karya tersebut, dapat disimpulkan bagaimana pemahaman atas ilmu keagamaan sangat melekat kuat pada diri sosok pejabat. Kondisi ini seghalibnya turun pula efek di level struktur yang lain.
Tak lama berdiam di ruangan Kakanwil, tim bimasislam mencoba menyusuri ruangan lain. Tak dinyana tiba-tiba ada sapategur dari seseorang yang memperkenalkan dirinya dengan nama Firdaus. Sembari memperlihatkan senyum kecilnya, sosok Firdaus ini menyerahkan buku saku kecil, yang berjudul “cara cepat dan tepat menentukan arah kiblat”.
Mendapati kejutan ini, perasaan sumringah terasa mengalir ke seluruh hati dan budi. Hanya dalam hitungan, tiba-tiba sudah hadir tiga karya berharga yang diperkenalkan kepada tamu yang datang dari luar Aceh ini.
Penghargaan atas karya-karya yang dituliskan oleh masyarakat Aceh siapapun namanya, sungguh merupakan ikhtiar perawatan atas warisan yang paling berharga dan mahal.
Lazim kiranya hal ini terjadi, karena beberapa saat sebelum meninggalkan area halaman kantor ini, sempat disinggahi pula suatu majelis yang membahas kitab turats keislaman (red: tauhid, fiqh, syariah, akhlah) yang ternyata dilakukan secara rutin oleh karyawan setempat di Musola Al-Ikhlas Kantor Wilayah Kementerian Provinsi Aceh ini.
Wal akhir, keyakinan semakin terpupuk bahwa dari Aceh kebangkitan kepustakaan Islam optimistis dapat dimulai.
(Femi – Heru - Faat)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



