Cilacap, Bimas Islam --- Kepala Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kabupaten Cilacap Imam Tobroni mengatakan, peluncuran program Gerakan Petani Mengaji (Gertaji) di Desa Bumireja pada Rabu (20/7) lalu merupakan salah satu upaya mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur (Negeri yang subur dan mendapatkan ampunan Tuhan).
“Kita di Cilacap ingin mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Gerakan Petani Mengaji sengaja kita luncurkan agar kehidupan menjadi semakin berkah, tidak hanya memikirkan dunia saja, tetapi juga berpikir akhiratnya,” ujar Imam Tobroni kepada bimasislam, Jumat (22/7).
Imam menjelaskan, program Gertaji tidak berdiri sendiri. Sebab, kata dia, program Gertaji tidak hanya seputar mengaji kitab suci saja, tetapi juga berkaitan erat dengan pemberdayaan ekonomi umat yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Kita menjalin kolaborasi dengan BAZNAS Kabupaten Cilacap untuk mencari cara yang tepat dalam penguatan ekonomi umat. Jadi program Gertaji tidak hanya mengaji, tetapi juga menguatkan ekonomi umat yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat luas,” tegasnya.
Melalui program Gertaji, Imam berharap, para petani semakin meningkatkan etos kerja, sabar dan ikhlas ketika mendapatkan musibah, serta tidak melupakan orang lain saat menerima rezeki yang lapang.
“Program Gertaji diharapkan membentuk karakter petani yang kuat iman dan mentalnya. Kalau sedang mendapatkan nikmat lebih dari cukup, kita tidak boleh lupa, kita harus bersyukur. Demikian juga ketika mendapatkan musibah juga harus ikhlas dan bersabar,” katanya.
(Rendi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Tuntaskan Persoalan Ruislag Tanah Wakaf Terdampak Tol dan Normalisasi Sungai di Semarang
Semarang, Bimas Islam — Kementerian Agama membenahi persoalan tukar-menukar (ruislag) tanah wakaf yang terdampak pembangunan Jalan Tol Semarang–Batang dan…



