Jakarta, Bimas Islam -- Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Ace Hasan Syadzili, mengungkapkan pentingnya peran penceramah agama dalam memperkuat ketahanan nasional. Hal itu ia sampaikan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Kompetensi Penceramah Agama Islam Tingkat Pusat dan MABIMS (Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura) 2025, yang digelar Ditjen Bimas Islam Kementerian Agama di Jakarta, Rabu (10/9/2025).
Menurut Ace Hasan, dai tidak hanya bertugas menyampaikan ajaran agama dan memberikan bimbingan spiritual, tetapi juga berperan sebagai mediator dalam menjaga kerukunan sosial, mengatasi konflik, serta memperkuat persatuan bangsa di tengah kemajemukan Indonesia.
“Para dai harus bisa menjadi agen perdamaian. Negara yang kuat adalah negara yang mampu menjaga pertahanan dan keamanan. Itulah modal dasar untuk membangun kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Ia menekankan, Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya jaminan atas kebutuhan dasar dan rasa aman sebagai fondasi kehidupan beragama dan bernegara. Tanpa itu, mustahil bangsa bisa maju dan masyarakat bisa beribadah dengan tenang.
Ace Hasan juga mengingatkan kembali tujuan utama berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yaitu melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi.
“Tidak boleh ada warga negara yang dibiarkan kelaparan, tidak boleh ada yang kehilangan nyawa akibat konflik, apalagi atas nama agama. Negara hadir untuk melindungi seluruh rakyat tanpa memandang suku, agama, dan ras,” tegasnya.
Selain tantangan internal seperti menurunnya nilai kebangsaan, intoleransi, dan polarisasi politik, Indonesia juga menghadapi tantangan eksternal berupa pandemi, konflik global, biaya hidup yang meningkat, perubahan iklim, serta dinamika geopolitik dunia. Karena itu, penguatan semangat nasionalisme dan kecintaan pada tanah air menjadi kunci menjaga ketahanan bangsa.
Ia menambahkan, relasi agama dan negara di Indonesia bersifat simbiosis mutualisme, di mana nilai-nilai agama menjadi spirit pembangunan, sementara negara menjamin kebebasan beragama. “Para dai jangan melepaskan semangat kebangsaan ketika menyampaikan dakwah. Nilai agama dan semangat kebangsaan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan,” katanya.
Ace Hasan juga menekankan pentingnya membangun sumber daya manusia unggul, memperkuat kecintaan terhadap tanah air, serta mengelola kekayaan alam Indonesia untuk kesejahteraan rakyat. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang bangga pada jati dirinya dan mampu merawat kemajemukan. Itulah kekuatan Indonesia,” tambahnya.
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Ahmad Zayadi, menambahkan, para penceramah agama memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan nasional melalui pendekatan yang sejuk dan inklusif. Menurutnya, dakwah yang menghadirkan kedamaian dan toleransi menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya arus informasi dan polarisasi di ruang publik.
“Dai harus menjadi teladan dalam menyampaikan pesan-pesan kebangsaan. Mereka bukan hanya mengajarkan akhlak mulia, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga persatuan dan kerukunan,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya memfasilitasi peningkatan kompetensi penceramah agar materi dakwah semakin adaptif dengan konteks kebangsaan dan tantangan global. Dikatakan Zayadi, penguatan kapasitas ini penting agar para dai dapat menjawab kebutuhan masyarakat lintas generasi dan budaya.
“Penguatan ketahanan bangsa tidak bisa hanya dibebankan pada pemerintah. Para dai punya kontribusi besar dalam membentuk opini publik yang positif, mengajak masyarakat untuk bersikap moderat, serta menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama secara harmonis,” pungkas Zayadi.
Mr-Wcp



