Samarinda, Bimas Islam -- Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) ke-30 di Samarinda bukan hanya menjadi ajang lomba tilawatil Qur'an, tetapi juga wadah bagi seniman kaligrafi internasional untuk memamerkan karya seni mereka, seperti yang dilakukan Direktur Kebudayaan dari Islamic Culture Center Jakarta, Gori Yusuf Husein.
Pria asal India itu telah berkecimpung di dunia seni kaligrafi selama lebih dari dua dekade. Ia dikenal karena mampu memadukan tradisi dengan seni modern, menjadikan seni kaligrafi klasik tetap relevan di masa kini.
Sebagai kurator kaligrafi internasional, Gori telah memamerkan karyanya di lebih dari 38 negara dan memperkenalkan kaligrafi tradisional Indonesia di kancah global. Ia berharap, semakin banyak seniman Indonesia yang mengikuti jejaknya dan mengharumkan nama bangsa melalui seni kaligrafi.
"Saya sudah bekerja selama 26 tahun terakhir di bidang ini, menggelar lebih dari 150 pameran di lebih dari 38 negara," kata Gori.
Berbeda dengan banyak seniman yang mengikuti kompetisi, Gori lebih memilih untuk fokus menyampaikan pesan melalui karyanya. Menurutnya, seni adalah sarana komunikasi budaya, bukan sekadar ajang mencari penghargaan.
"Saya tidak mengikuti kompetisi. Tujuan saya adalah menampilkan karya terbaik saya di hadapan publik dan menunjukkan realitas seni kaligrafi tradisional," tegasnya.
Dalam pameran kali ini, Gori menampilkan karya yang menggunakan teknik dan bahan tradisional, sesuatu yang jarang ditemui di era modern. Karyanya tidak hanya indah secara visual, tetapi juga menggunakan bahan alami dari residu tumbuhan yang membawa pesan spiritual mendalam.
"Saya menggunakan kain dan kertas buatan tangan, sehingga karya saya memiliki nilai seni yang lebih tinggi dan bermakna," jelasnya.
Gori menyampaikan pandangannya tentang perkembangan seni kaligrafi di Indonesia. Menurutnya, seni kaligrafi di Indonesia memiliki potensi besar untuk terus berkembang, terutama dengan minat yang tinggi dari generasi muda.
"Generasi baru harus berperan aktif dan membawa seni kaligrafi menuju masa depan. Saya berharap seniman kaligrafi senior juga memberikan ruang bagi mereka untuk berkarya," kata Gori saat ditemui Expo MTQ Nasional ke-30, Minggu (15/9/2024).
Gori mengungkapkan pentingnya menjaga keaslian seni kaligrafi yang berakar dari tradisi Islam. Baginya, keahlian teknis tidaklah cukup, keaslian juga harus tercermin dalam penggunaan bahan alami dan metode yang diwariskan turun-temurun.
"Saya sangat mengutamakan keaslian dalam karya kaligrafi, baik dari naskah maupun konsep museumnya," ujarnya.
MTQN Expo kali ini menjadi kesempatan bagi Gori untuk memperkenalkan seni kaligrafi kepada masyarakat Indonesia, terutama generasi muda. Ia melihat potensi besar dari anak muda Indonesia untuk melanjutkan warisan seni kaligrafi yang kaya nilai-nilai Islam.
"Saya ingin menyampaikan kepada generasi baru yang tertarik dengan seni untuk terlibat dalam dunia kaligrafi. Ini tanggung jawab kita sebagai seniman senior untuk memperkenalkan seni ini kepada mereka," tambahnya.
Gori berharap kehadirannya dalam MTQN Expo ini dapat menginspirasi pengunjung untuk lebih menghargai dan mendalami seni kaligrafi. "Saya ingin mereka melihat bahwa seni kaligrafi bukan sekadar tulisan indah, melainkan warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan," pungkasnya.
Fn/Mr



