Sofifi, Bimas Islam --- Muhammad Masud tampak semringah ketika turun dari panggung utama di halaman Masjid Raya Shaful Khairat, Kota Sofifi, Maluku Utara. Ia baru saja melantunkan ayat suci Al-Qur'an pada event Seleksi Tilawatil Quran dan Hadis (STQH) tingkat nasional XXVI.
Muhammad Masud mewakili kafilah Provinsi Jawa Tengah untuk cabang Tilawah Dewasa. Penampilannya sukses memikat perhatian para penonton yang hadir di lokasi tersebut.
Ketika berbincang dengan bimasislam usai tampil, Masud bercerita bahwa kunci utama yang ia pegang dalam menghadapi STQHN di Sofifi adalah guru. Baginya, guru adalah kritikus terbaik dalam upayanya meningkatkan level kompetensi.
"Guru adalah pengkritik terbaik. Guru adalah tempat kita belajar banyak hal, termasuk belajar tilawah. Zaman boleh jadi makin maju, media sosial semakin canggih, tapi peran guru tidak bisa diganti," ujar Masud pada Rabu (20/10) malam.
Masud berpandangan, secanggih-canggihnya teknologi akan ada kekurangannya. Ada saatnya penjelasan dari guru lebih bisa dipahami ketimbang penjelasan dari media sosial.
"Boleh saja belajar otodidak di YouTube, tapi tetap saja ada hal-hal yang hanya bisa dijelaskan oleh guru. Saya berharap semua orang bisa menghargai guru-gurunya," ujar Masud.
Untuk STQH Nasional XXVI kali ini, Masud berharap bisa menjadi juara. Meski pada akhirnya tidak menjadi juara pun, Masud sudah ikhlas dan menyerahkan semua urusannya pada Yang Maha Kuasa.
(Rendi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



