Jakarta, Bimas Islam — Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia, Habiburrahman El Shirazy, mengajak umat memaknai risalah Rasulullah saw. sebagai cahaya yang menghidupkan jiwa, membimbing manusia, dan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan. Pesan tersebut ia sampaikan melalui puisi yang dibacakannya pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Tingkat Nasional 1448 H di Auditorium H.M. Rasjidi Kementerian Agama, Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Habiburrahman mengawali puisinya dengan menggambarkan peristiwa turunnya wahyu pertama kepada Rasulullah saw. di Jabal Nur. Dalam puisinya, ia menggambarkan pertemuan Nabi dengan Malaikat Jibril sebagai momentum ketika cahaya wahyu mulai menerangi kehidupan manusia.
Ia melukiskan bagaimana Rasulullah saw. menerima perintah membaca dalam kondisi penuh kepasrahan. Cahaya tersebut kemudian tidak hanya menerangi diri Rasulullah, tetapi dibawa untuk menerangi masyarakat dan peradaban yang sebelumnya berada dalam kegelapan.
“Bacalah. Di Jabal Nur, dalam kepasrahan total, tubuhnya bercahaya. Jibril menguatkan jiwanya. Bacalah,” ujar Habiburrahman saat membacakan puisinya.
Menurutnya, Rasulullah saw. kemudian membawa cahaya Al-Qur’an ke tengah kehidupan masyarakat. Cahaya itu hadir di Makkah, Taif, Madinah, dan berbagai penjuru Jazirah Arab, lalu mengubah kehidupan manusia melalui petunjuk yang bersumber dari wahyu Allah Swt.
Habiburrahman menggambarkan Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, tetapi petunjuk yang hidup dalam perilaku Rasulullah saw. Karena itu, keteladanan Nabi menjadi penting untuk memahami bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an diterapkan dalam kehidupan nyata.
“Cahaya itu bernyawa. Cahaya itu menghidupkan jiwa-jiwa yang mati, menyembuhkan peradaban yang sekarat. Lihatlah, penggembala domba yang tidak bisa membaca itu menyentuh dunia dengan cahaya,” katanya.
Ia melanjutkan, risalah Rasulullah saw. menghadirkan perubahan sosial yang besar. Mereka yang sebelumnya tertindas memperoleh kemuliaan, sementara kesombongan dan ketidakadilan para tiran menghadapi perlawanan nilai-nilai wahyu.
Dalam rangkaian Maulid tersebut, Habiburrahman juga mengaitkan cahaya Al-Qur’an dengan kecintaan kepada Rasulullah saw. Menurutnya, kecintaan kepada Nabi perlu diwujudkan dengan mengenal sirah dan meneladani akhlaknya, sehingga peringatan Maulid tidak berhenti sebagai seremoni keagamaan.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. Tingkat Nasional 1448 H yang dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar itu mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah, Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan.” Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Blissful Mawlid 1448 H yang diselenggarakan Kementerian Agama.
Melalui puisi tersebut, Habiburrahman menutup pesan tentang Rasulullah saw. sebagai pembawa cahaya yang memberi petunjuk, kedamaian, kesejukan, ketenangan, dan kasih sayang. Nilai-nilai tersebut, menurutnya, perlu terus dihidupkan agar kecintaan kepada Nabi berbuah pada kehidupan yang lebih beradab dan memuliakan sesama.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



