Jakarta, Bimas Islam — Ketua Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia, Habiburrahman El Shirazy, mengajak umat Islam menjadikan kecintaan kepada Rasulullah saw. sebagai jalan untuk memperkuat keteladanan dalam kehidupan. Pesan itu disampaikannya dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Tingkat Nasional 1448 H yang digelar Kementerian Agama di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Habiburrahman mengawali tausiyah dengan mengisahkan hadis yang diriwayatkan Anas bin Malik dalam Sahih Muslim. Seorang Arab Badui pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kapan kiamat, lalu nabi balik bertanya mengenai bekal yang telah disiapkan untuk menghadapinya.
“Ma a‘dadtu syai’an illa hubballahi wa rasulihi. Aku tidak menyiapkan apa-apa untuk menghadapi hari kiamat, kecuali cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi kemudian memberikan kabar gembira, ‘Anta ma‘a man ahbabta’, engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai,” ujar Habiburrahman.
Menurutnya, hadis tersebut menunjukkan tingginya kedudukan cinta dalam ajaran Islam. Mahabbah kepada Allah, Rasulullah, dan orang-orang saleh tidak berhenti sebagai perasaan, tetapi dapat menjadi energi spiritual yang mendorong seseorang mendekat kepada nilai-nilai kebaikan dan keteladanan.
Habiburrahman kemudian menjelaskan sosok Anas bin Malik yang menjadi perawi hadis tersebut. Sejak kecil, Anas hidup bersama Rasulullah saw. setelah ibunya menyerahkannya untuk berkhidmah kepada nabi. Dari kedekatan itu, Anas menjadi salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadis.
Ia menuturkan, Anas menyadari dirinya tidak mungkin menyamai amal dan kedudukan Rasulullah saw. maupun para sahabat utama seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Namun, Anas memiliki satu bekal yang diyakininya dapat mengantarkan pada kebersamaan dengan orang-orang yang dicintainya, yakni cinta.
Pesan serupa, lanjut Habiburrahman, juga tercermin dalam syair Imam Syafi’i yang menggambarkan kecintaan kepada orang-orang saleh meskipun seseorang belum mampu menyamai amal mereka. Cinta tersebut diharapkan menjadi jalan memperoleh keberkahan dan syafaat.
“Karena itu, cinta di dalam Islam memiliki maqam yang sangat tinggi. Cinta kepada orang-orang saleh menjadi harapan agar kita kelak dikumpulkan bersama mereka,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Habiburrahman juga mengajak hadirin melihat kecintaan kepada Rasulullah saw. bukan sekadar melalui perayaan Maulid atau ungkapan lisan. Kecintaan itu perlu diteruskan dengan mengenal sirah nabi, memahami akhlaknya, lalu menghadirkannya dalam perilaku pribadi dan kehidupan sosial.
Peringatan Maulid Nabi tingkat nasional tahun ini mengangkat tema “Meneladani Akhlak Rasulullah, Merajut Persaudaraan, Memuliakan Kemanusiaan.” Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Blissful Mawlid 1448 H yang dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, jajaran Kementerian Agama, ulama, tokoh masyarakat, serta peserta secara luring dan daring.
Habiburrahman juga membacakan puisi tentang Rasulullah saw. dan Al-Qur’an sebagai cahaya yang menghidupkan jiwa serta membimbing manusia keluar dari kegelapan. Melalui puisi tersebut, ia mengajak umat memaknai risalah Nabi sebagai cahaya yang tidak hanya menerangi kehidupan spiritual, tetapi juga menghadirkan kedamaian, kasih sayang, dan kemanusiaan dalam kehidupan bersama.
Kegiatan tersebut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar, Wakil Menteri Agama Romo HR Muhammad Syafi’i, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Abu Rokhmad, Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Lubenah Amir, para direktur di lingkungan Kementerian Agama, duta besar dan perwakilan negara sahabat, ulama, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, penghulu, penyuluh agama, dai dan daiyah, serta tokoh masyarakat.
An/Mr
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Lantik Pejabat Eselon II Ditjen Pesantren, Menag: Perhatikan Masa Depan Santri dan 42 Ribu Pesantren
Jakarta, Bimas Islam --- Menteri Agama Nasaruddin Umar hari ini melantik lima pejabat eselon II Direktorat Jenderal Pesantren Kementerian Agama. Pelantikan…



