Menurutnya, radio merupakan alat atau sarana yang digunakan oleh para pejuang dalam menyebarluaskan berita proklamasi kemerdekaan. Selanjutnya, RRI mengambil bagian penting dalam menyuarakan pesan-pesan persatuan dan pembangunan bangsa, termasuk pembangunan di bidang mental-spiritual.
"Kementerian Agama memiliki pengalaman kerjasama yang erat dengan RRI dalam membina kehidupan beragama. Kami memiliki kesan mendalam tentang program dan siaran keagamaan RRI yang substansinya mendukung misi Kementerian Agama." ujar Fuad kepada tim pemberitaan Bimas Islam, Sabtu (11/9).
Sebagai contoh, di era 1970-an, lanjut Fuad, siaran keagamaan yang legend di RRI Stasiun Nasional Jakarta adalah seri Kuliah Shubuh yang diisi oleh ulama besar Buya Prof. Dr. Hamka, siaran Pendidikan Budi Pekerti oleh HSM Nasaruddin Latif, serta Kuliah Shubuh oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan tokoh lainnya yang menjadi icon dakwah di udara di masanya. Program Kuliah Shubuh menarik minat dan perhatian luas dari para pendengar dan pencinta RRI di seluruh Indonesia dan hingga manca negara.
Peringatan Hari Besar Islam di Istana Negara, pelaksanan Salat Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, maupun juga acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional selama berpuluh tahun selalu didukung RRI dalam penyiarannya. Bahkan, tiap tahun RRI juga menyelenggarakan kegiatan religi yaitu Pekan Tilawatil Quran (PTQ).
"Bagi kami, RRI adalah mitra strategis dalam mengembangkan syiar agama, meneguhkan nilai-nilai hidup beragama, dan menyuarakan pesan-pesan akhlak mulia di tengah kehidupan bangsa," lanjut Fuad.
Fuad berharap, RRI sebagai lembaga penyiaran publik (LPP) tetap jaya dan terus berinovasi agar selalu mendapat tempat di hati masyarakat, termasuk generasi millenial, di zaman yang serba berubah ini. Kontribusi siaran RRI dalam pembangunan mental- spiritual bangsa harus tetap mengumandang.
"Dirgahayu RRI, sekali di udara tetap di udara," tutupnya.
(Boy)



