Majalengka, Bimas Islam — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan komitmen untuk memperkuat peran strategis perempuan Nahdlatul Ulama, terutama Fatayat NU, dalam mengarusutamakan dakwah berbasis budaya. Pernyataan itu disampaikan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, dalam acara Harlah ke-75 Fatayat NU di Majalengka, Sabtu (31/5/2025).
Arsad menekankan pentingnya peran organisasi perempuan seperti Fatayat NU dalam merawat nilai-nilai Islam yang ramah, inklusif, dan membumi melalui pendekatan sosial dan budaya. “Fatayat NU telah membuktikan diri sebagai aktor strategis dakwah Islam moderat yang tumbuh dari tradisi dan kearifan lokal. Ini kekuatan yang perlu terus diperkuat oleh negara,” ujar Arsad di hadapan ratusan peserta yang hadir dalam Festival Budaya dan Diklat Kepemimpinan Perempuan di Pesantren Ekologi Al-Mizan.
Menurut Arsad, dalam menghadapi tantangan sosial keagamaan saat ini, seperti polarisasi, krisis identitas, dan derasnya arus digital, pendekatan budaya menjadi jembatan yang efektif untuk menyampaikan pesan-pesan Islam secara kontekstual dan menyentuh kehidupan sehari-hari umat.
Kemenag, lanjutnya, mendorong Fatayat NU untuk memperluas peran dan keterlibatannya dalam penguatan moderasi beragama, pemajuan kebudayaan Islam, serta pelestarian nilai-nilai lokal yang selaras dengan semangat keislaman dan kebangsaan.
Arsad menyebut, Fatayat NU bukan hanya organisasi kaderisasi, tetapi ekosistem kepemimpinan perempuan yang produktif. Sejumlah tokoh nasional, mulai dari menteri, anggota parlemen, hingga aktivis perempuan telah lahir dari rahim Fatayat NU.
“Ini menunjukkan Fatayat adalah laboratorium kader perempuan Islam yang siap menjawab tantangan zaman, bukan hanya untuk NU, tapi juga untuk Indonesia,” tegasnya.
Ia menambahkan, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan menjadi landasan kuat bagi organisasi masyarakat, termasuk ormas perempuan, untuk terlibat aktif dalam pengembangan seni dan budaya Islam sebagai bagian dari identitas nasional.
Pesantren Al-Mizan Model Dakwah Ekologi dan Budaya
Pada acara yang digelar Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Majalengka itu, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah lokasi penyelenggaraan yang tak biasa, yaitu Pesantren Ekologi Al-Mizan, Majalengka. Pesantren ini menjadi contoh nyata integrasi antara nilai keislaman, budaya lokal, dan kesadaran ekologis dalam satu sistem pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kemenag sangat mengapresiasi keberadaan pesantren seperti Al-Mizan. Ini bentuk inovasi dakwah yang holistik, merawat bumi, budaya, dan batin umat sekaligus,” ujar Arsad.
Arsad mengungkapkan, Pesantren Al-Mizan tidak hanya mendidik santri secara keagamaan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai lingkungan hidup, kesenian tradisional, dan pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari ibadah sosial. Di sinilah konsep dakwah tidak berhenti di mimbar, tetapi menjelma dalam praktik sehari-hari.
Menurut Arsad, hal yang dijalankan Al-Mizan selaras dengan program strategis Kemenag seperti Ngaji Budaya, Repositori Digital Seni Budaya Islam, dan Pembinaan Seniman Budayawan Muda (SEMBADA). Seluruh program ini mendorong integrasi antara spiritualitas Islam dan ekspresi budaya Nusantara.
Ia juga menyebut peran penting pesantren dalam melestarikan kaidah Nahdlatul Ulama yang berbunyi “al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah”, memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih maslahat.
“Al-Mizan tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga melakukan ijtihad sosial. Ini penting dalam menjawab perubahan zaman tanpa kehilangan akar nilai,” ucapnya.
Ke depan, Arsad berharap, semakin banyak pesantren yang mengembangkan pendekatan serupa, yaitu menggabungkan dakwah Islam, pendidikan, budaya, dan ekologi sebagai satu kesatuan misi keumatan dan kebangsaan.
Kegiatan Festival Budaya dan Diklat Kepemimpinan Perempuan itu turut dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta Bupati Majalengka Eman Suherman. Ketua LASQI NJ Jawa Barat Maman Imanulhaq, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Badan Pangan Nasional Maino Dwi Hartono,
Kepala Kanwil Kemenag Jawa Barat Ajam Mustajam, Kepala Kemenag Kabupaten Majalengka Agus Sutisna. Hadir pula para sesepuh NU, tokoh perempuan, dan ratusan kader Fatayat dari berbagai daerah.
Dalam penutup sambutannya, Arsad menyampaikan harapan agar Fatayat NU terus menjadi pilar penting dakwah kultural yang inklusif dan transformatif.
“Fatayat NU bukan hanya memperjuangkan kesetaraan, tetapi juga membawa nilai-nilai Islam yang berkarakter, welas asih, dan berpihak kepada kemaslahatan umat,” tandasnya.
An/Mr



