Toba Samosir, Bimas Islam --- Banyak cerita atau kisah yang menarik dari pengalaman bertugas seorang penyuluh agama Islam di daerah minoritas seperti di Kabupaten Toba Samosir (Tobasa), Sumatera Utara.
Adalah Hendri Hasibuan (43), seorang penyuluh agama Islam honorer di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Laguboti yang bersedia berbagi cerita kepada bimasislam tentang pengalamannya sebagai seorang penyuluh agama.
Lelaki yang akrab disapa ustadz Abu Dzar ini mengawali ceritanya merantau dari kampung kelahirannya di Padang Bolak, Kabupaten Padang Lawas Utara ke Toba Samosir 22 tahun yang lalu untuk tujuan dakwah Islam. Sebab, di daerah kawasan danau toba merupakan minoritas muslim yang masyarakatnya sangat memerlukan sosok yang ahli dalam agama.
Sebagai alumnus pondok pesantren masyhur di Sumatera Utara, ayah empat orang putra putri ini memantapkan hatinya berangkat ke Tobasa untuk berdakwah dan memberi bimbingan agama kepada masyarakat muslim di daerah tersebut.
Sebelum bertugas secara resmi sebagai penyuluh agama honorer, ustadz Abu Dzar bekerja di rumah sakit khusus pasien kusta. Tugasnya pun tidak jauh-jauh dari bimbingan keagamaan kepada para pasien.
Barulah pada tahun 2016, ia diangkat sebagai penyuluh agama Islam honorer dan bertugas di wilayah kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir. Sejak menjadi penyuluh, Hendri pun aktif berdakwah dengan membentuk majelis taklim kaum ibu dan kaum bapak dimana dia sendiri yang menjadi penceramahnya.
Mungkin karena jumlah yang sedikit, ustadz Abu mengaku bahwa dirinya dengan masyarakat muslim di daerah tersebut sudah seperti keluarga. Masyarakat muslim di sana sangat mengandalkan dirinya. Dalam urusan apa saja, rasanya tidak afdhol jika tidak melibatkan penyuluh agama, termasuk dalam urusan melahirkan anak.
"Pernah suatu ketika jam tiga pagi, ada orang datang ke rumah menjemput saya minta tolong melihat istrinya yang akan melahirkan. Waktu itu saya sempat berpikir apa urusannya orang mau melahirkan dengan seorang ustadz," kelakar Abu Dzar kepada bimasislam sembari mengemudikan kendaraannya, Jum'at (26/8).
Pria berjanggut lebat yang selalu memakai kopiah inilah yang mengantarkan bimasislam kemana pun selama bertugas di Toba Samosir dengan kendaraan roda empat yang kami rental.
Ternyata lanjut dia, masyarakat muslim di sana sudah terbiasa mengandalkan para ustadz dalam banyak urusan. Meskipun akhirnya ibu yang akan melahirkan dibawa ke rumah sakit, tapi bagi sang suami, merasa penting untuk mendapatkan doa kelancaran dari ustadz Abu Dzar.
"Jadi mungkin karena kami jumlahnya sedikit, masyarakat muslim disini selalu mengandalkan para ustadz, makanya kami seperti sudah merasa satu keluarga saja," ungkapnya.
Praktik Moderasi Beragama
Masyarakat di Toba Samosir mayoritas beragama Nasrani. Meski demikian, ustadz Abu Dzar sangat dihormati oleh masyarakat di sana, termasuk oleh umat Kristiani.
"Pernah juga antara sesama jemaat Gereja ada konflik internal, tetapi saya yang diminta mendamaikan mereka yang berkonflik. Alhamdulillah begitu saya damaikan mereka pun sudah kembali hidup rukun," kenang ustad bermarga Hasibuan ini.
Hendri Hasibuan mengaku sangat menghormati pluralitas yang ada di daerah tersebut. Ia bercerita ada seorang warga Kristiani yang ingin diislamkan oleh sang Ustadz. Tapi Hendri tidak serta menyanggupinya.
"Saya tolak mengislamkan karena awalnya Bapak itu merasa terpaksa masuk Islam akibat anak-anaknya yang sudah duluan masuk Islam. Saya katakan ke dia tidak boleh ada paksaan masuk Islam. Orang yang mau masuk Islam harus betul-betul keinginan dari diri sendiri," terang Hendri waktu itu.
(IKQ/SKa)
(IKQ/SKa)



