Jakarta, Bimas Islam -- Menurut ulama, jawabannya adalah tetap sah, namun dihukumi makruh dan tidak mendapatkan fadilahnya jamaah. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Imam al-Nawawi dalam al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, ia menerangkan demikian:
ุฅุฐูุง ุตููููู ุงูุฑููุฌููู ููุจูุฌูููุจููู ุงู
ูุฑูุฃูุฉู ููู
ู ุชูุจูุทููู ุตููุงุชู ููููุง ุตูููุงุชูููุง ุณูููุงุกู ููุงูู ุฅู
ูุงู
ูุง ุฃููู ู
ูุฃูู
ููู
ูุง ูุฐุง ู
ุฐูุจูุง ููุจููู ููุงูู ู
ูุงูููู ููุงููุฃูููุซูุฑูููู
“Ketika seorang lelaki sedang salat dan di sampingnya terdapat seorang perempuan, maka salatnya itu tidak batal (sah), dan salat perempuan itu juga tidak batal, baik lelaki tersebut menjadi imam atau makmum, dan inilah pendapat mazhab kami (Syafii). Ini juga pendapat Imam Malik dan kebanyakan ulama.”
Menurut Syekh Abi Bakar Syatha dalam kitab I’anah at Thalibin, terkait masalah ini shalatnya adalah tetap sah, namun dihukumi makruh dan tidak mendapatkan fadilahnya jamaah. Ia menjelaskan:
(ูููู: ูููู ุฎูู ุงูุฅู
ุงู
ุงูุฑุฌุงู ุซู
ุงูุตุจูุงู ุซู
ุงููุณุงุก) ุฃู ููุณู ุฅุฐุง ุชุนุฏุฏุช ุฃุตูุงู ุงูู
ุฃู
ูู
ูู ุฃู ููู ุฎููู ุงูุฑุฌุงูุ ููู ุฃุฑูุงุกุ ุซู
ุจุนุฏู – ุฅู ูู
ู ุตููู
– ุงูุตุจูุงูุ ุซู
ุจุนุฏูู
– ูุฅู ูู
ููู
ู ุตููู
– ุงููุณุงุก. ูุฐูู ููุฎุจุฑ ุงูุตุญูุญ: ูููููู ู
ููู
ุฃููู ุงูุฃุญูุงู
ูุงูููู – ุฃู ุงูุจุงูุบูู ุงูุนุงูููู – ุซู
ุงูุฐูู ูููููู
. ุซูุงุซุง. ูู
ุชู ุฎููู ุงูุชุฑุชูุจ ุงูู
ุฐููุฑ ูุฑู.
“Yang berdiri di belakang imam, adalah makmum laki-laki, kemudian anak-anak, kemudian makmum wanita. Yakni disunahkan bila barisan salat banyak dibelakang imam kaum laki-laki meskipun hamba sahaya, kemudian setelah shafnya penuh, di belakangnya anak-anak, kemudian di belakangnya meskipun barisannya belum penuh kaum wanita.
Formasi demikian adalah tuntunan dari Rasulullah Saw, yang mana beliau bersabda “Hendaklah yang berada tepat di belakang shalatku orang yang dewasa yang memiliki kecerdasan dan orang yang sudah berakal di antara kalian, kemudian orang yang sesudah mereka tiga kali”. Dan bila urutan barisan tersebut disalahi, maka hukumnya makruh”. (I’anah Al-Thalibin, Juz 2 Halaman 31).
Berdasarkan uraian di atas, disimpulkan bahwa hukumnya adalah sah, akan tetapi makruh dan dapat mengurangi fadilah salat jamaahnya. Pasalnya aturan yang sesuai dengan sunah Nabi itu lelaki di barisan depan, kemudian perempuan berada di barisan belakang.
(Tim Layanan Syariah)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam โ Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkaitโฆ



