Jakarta, Bimas Islam — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengapresiasi peran Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama (Kemenag) dalam menopang pengabdian ASN Kemenag, terutama di tengah tuntutan kerja yang semakin kompleks dan menyita waktu. Menurutnya, dukungan para istri, menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan pelayanan publik di Kemenag.
Hal itu disampaikan Menag saat memberikan pidato kunci pada Peringatan Hari Ulang Tahun ke-26 DWP Kemenag yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ibu Tahun 2025, bertema “Perempuan Berdaya, Keluarga Bahagia Menuju Indonesia Jaya”, di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kemenag, Jakarta, Rabu (17/12/2025). Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pejabat, termasuk Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Lubenah.
“Ketika beban kerja semakin berat, ketahanan keluarga menjadi kunci. Di situlah peran strategis Dharma Wanita Persatuan,” kata Menag.
Menag mengingatkan, ekspektasi publik terhadap Kemenag sangat tinggi, karena institusi ini memikul mandat moral dan spiritual yang langsung dinilai oleh masyarakat. Menurutnya, setiap sikap dan perilaku aparatur Kemenag, termasuk keluarga besarnya, tidak pernah lepas dari sorotan publik.
“Kementerian Agama itu ibarat berlatar putih. Sedikit saja noda, langsung terlihat. Karena itu, kehati-hatian, integritas, dan keteladanan menjadi keniscayaan,” tegas Menag.
Imam Besar Masjid Istiqlal itu mengatakan, posisi tersebut menuntut seluruh elemen Kemenag untuk menjaga sikap, termasuk para istri ASN yang tergabung dalam DWP. Ia menyebut DWP memiliki posisi strategis sebagai wajah keteladanan yang turut membentuk persepsi publik terhadap Kementerian Agama.
Meski demikian, Menag mengingatkan bahwa anggota DWP tetaplah manusia biasa. “Kita bukan malaikat, tetapi setidaknya jangan sampai menjadi sumber masalah. DWP harus tetap menjadi teladan moral di ruang publik,” ujarnya.
Sementara itu, Penasihat DWP Kemenag, Helmi Nasaruddin Umar, menyampaikan, HUT ke-26 DWP menjadi momentum evaluasi dan refleksi atas peran konkret perempuan, terutama istri ASN, dalam memperkuat keluarga sekaligus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“DWP tidak hanya hadir sebagai organisasi pendamping, tetapi sebagai ruang tumbuh, ruang belajar, dan ruang pengabdian yang menghasilkan kerja nyata,” ujar Helmi Nasaruddin Umar.
Ia mengungkapkan, sepanjang 2025, DWP Kemenag menjalankan lebih dari 60 kegiatan pembinaan, mencakup pemberdayaan perempuan, penguatan ketahanan keluarga, pendidikan, ekonomi, serta kepedulian sosial dan kemanusiaan, yang selaras dengan program prioritas Kemenag.
Di bidang ketahanan keluarga, Helmi menjelaskan terkait kerja sama DWP Kemenag dengan BP4 melalui pembukaan layanan konseling keluarga bagi ASN Kemenag, yang kini telah berjalan di tingkat pusat dan mulai diperluas ke sejumlah provinsi.
Dalam konteks kemanusiaan, Helmi menyebut DWP Kemenag secara aktif hadir mendampingi masyarakat terdampak bencana di berbagai daerah melalui penyaluran bantuan dan kehadiran langsung di lapangan, sebagai wujud empati dan tanggung jawab sosial.
“Pengabdian sering dilakukan dalam senyap, tetapi dampaknya harus nyata dan dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Helmi berharap, memasuki usia ke-26, DWP Kemenag semakin mengokohkan perannya sebagai sumber keteduhan, penguat ketahanan keluarga, dan mitra strategis Kemenag dalam membangun Indonesia yang berdaya dan berkeadaban.
An/Mr



