Jakarta, Bimas Islam --- Sekretaris Ditjen (Sesditjen) Bimas Islam Kementerian Agama (Kemenag), M. Fuad Nasar berharap Jakarta berada dalam tingkat kemajuan yang seimbang baik dalam dimensi fisik material maupun mental spiritual dan etika sosial para penduduknya yang heterogen. Hal ini disampaikan Sesditjen bertepatan dengan momen Hari Ulang Tahun ke-495 yang diperingati tiap 22 Juni 2022.
“Sebagai kota metropolitan yang usianya hampir mencapai lima ratus tahun, Jakarta dewasa ini bukan hanya menjadi pusat perputaran uang terbesar di Indonesia, tetapi juga kota tempat tinggal dan tempat jutaan orang mencari nafkah, serta melakukan aktivitas bisnis mulai dari pedagang "kaki lima" UMKM, hingga bisnis dengan jejaring nasional dan global. Orang paling miskin hingga orang paling kaya dijumpai di Jakarta,” kata Sesditjen di Jakarta, Rabu (22/6).
Sesditjen mengungkapkan dari sudut historis, Jakarta adalah Kota Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Kota Proklamasi Kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, dan kota proklamasi kedua saat peralihan dari Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanggal 3 April 1950.
“Jakarta memiliki sejarah yang mengabadikan jejak kepahlawanan Fatahillah hingga mengganti nama menjadi Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, dan Jakarta,” ujarnya.
Mengutip tulisan mantan Ketua Umum MUI Pusat almarhum KH Hasan Basri (1920- 1998) dalam buku Risalah Islamiyah Rahmat Bagi Alam Semesta (1989) bahwa yang membangun pertama kali kota Jakarta ialah seorang ulama merangkap panglima yaitu Pangeran Jayakarta atau Falatehan, atau Fatahillah.
Saat pemugaran masjid di Jatinegara yang dibangun tahun 1640, lanjut Sesditjen, di dekat makam Pangeran Ahmad Jakarta, tersimpan surat wasiat dari Pangeran Jayakarta kepada anak cucunya atau penduduk yang berdiam di kota Jakarta ini. Surat tersebut berisi wasiat agar bertakwa dan syiarkan agama Islam, mendirikan masjid, dan berbakti kepada kedua orang tua.
"Jakarta merupakan tempat berkumpul dan bermusyawarahnya para founding fathers negara kita yang melahirkan dan menyepakati dasar falsafah negara Pancasila dan UUD 1945," imbuhnya.
Sesditjen sebagai warga kota Jakarta juga memaparkan, sejumlah masalah klasik yakni kemiskinan, pengangguran, tunawisma, dan berbagai penyakit masyarakat seperti narkoba, miras, judi, kriminal dan lainnya perlu ada pemecahan secara terpadu, sistematis, dan tuntas.
"Pembangunan Jakarta dari masa ke masa sudah menorehkan banyak kemajuan dan hasil yang positif, meski dalam beberapa hal masih memerlukan pembenahan dan peningkatan sesuai tantangan sepanjang masa," lanjutnya.
Sesditjen mengutip mendiang Henk Ngantung, Gubernur DKI Jakarta periode 27 Agustus 1964 - 15 Juli 1965 yang pernah mengusulkan Jakarta sebagai kota teladan, harusnya ada semacam monumen "pahlawan pembangunan yang tidak dikenal”.
"Disadari atau tidak, pada setiap bangunan, jalan-jalan, jembatan-jembatan, taman-taman, dan sebagainya, yang megah dan indah itu, tertitipkan pula suatu "amanat" rakyat ibu kota yang secara langsung atau tidak "menjadi korban" (penggusuran) bahwa mereka sesungguhnya adalah pahlawan-pahlawan pembangunan yang tidak dikenal,” ungkap Fuad menyitir pernyataan gubernur Henk Ngantung yang seniman itu dan perancang tugu Selamat Datang di Bunderan HI.
"Setelah Jakarta tidak lagi berstatus sebagai Ibu Kota Negara dalam hal ini pusat pemerintahan dan birokrasi, Jakarta harus mempersiapkan diri sebagai pusat bisnis nasional dan global dan juga sebagai kota budaya, serta kota proklamasi, yang menyimpan sejarah republik," pungkas Fuad Nasar.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



