Jakarta, Bimas Islam -- Cendekiawan Muslim asal Amerika Serikat, Anna M. Gade, memaparkan tiga kerangka kerja ekoteologi Islam untuk memahami keterlibatan agama dalam isu lingkungan. Hal tersebut disampaikannya dalam International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama di Jakarta, Selasa (15/7/2025).
Gade menilai, ekoteologi Islam tidak dapat dibatasi dalam satu bidang ilmu saja, tetapi dibutuhkan pendekatan lintas disiplin keilmuan untuk menjawab tantangan krisis iklim global secara lebih menyeluruh.
Tiga kerangka kerja yang ia paparkan yaitu kajian keislaman (Islamic Studies), tema etika dan advokasi (Themes in Ethics and Advocacy), serta kajian lingkungan (Environmental Studies), merujuk dalam karya akademiknya “Muslim Environmentalisms: Religious and Social Foundations” yang terbit pada 2019.
“Saya telah menulis buku ini untuk memberi pandangan tentang hubungan antara Islam dan lingkungan,” ujar Gade.
Buku tersebut menguraikan bagaimana umat Islam di berbagai belahan dunia mengaitkan nilai-nilai agama dengan pelestarian alam. Meski bersifat global, banyak praktik baik yang dicontohkan dalam buku tersebut diambil dari Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.
Islamic Studies: Lingkungan dalam Warisan Ilmu Keislaman
Dalam kerangka Islamic Studies, Gade mengungkapkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan telah menjadi bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam. Konsep keseimbangan alam, tanggung jawab manusia sebagai khalifah, serta larangan merusak bumi telah termuat dalam Al-Qur’an, bahkan ilmu tasawuf.
Saat ini, kata Gade, mulai banyak orang-orang religius mengarahkan perhatian mereka pada lingkungan untuk mencapai cita-cita dan tujuan Islam. “Ekoteologi Islam bukanlah hal baru. Ini bukan hanya respons terhadap krisis lingkungan global, melainkan bagian dari warisan ilmu Islam itu sendiri,” ungkapnya.
Ethics and Advocacy: Etika Islam dalam Gerakan Sosial Lingkungan
Melalui kerangka Themes in Ethics and Advocacy, Gade melihat bagaimana nilai-nilai Islam seperti amanah, rahmah, dan tanggung jawab moral diterjemahkan dalam gerakan sosial berbasis lingkungan. Ia mencontohkan seperti program wakaf hutan, pengelolaan masjid ramah lingkungan, dan pertanian berkelanjutan sebagai wujud nyata etika Islam terhadap alam.
“Pada 2010, para pengajar dan kiai di Indonesia memiliki pemahaman yang canggih menurut saya tentang akhirat yang selaras dengan ekoteologi. Misalnya, ada keyakinan bahwa mencari ampunan Allah berarti juga merawat ciptaan-Nya,” kata Gade. Pemikiran ini diyakininya sangat penting dalam membentuk etika dan cara pandang umat Islam saat ini.
Saat itu, imbuh Gade, para intelektual dan tokoh agama di Indonesia telah memikirkan konsep ekoteologi secara serius. Banyak di antaranya merintis program seperti sedekah sampah di pondok pesantren, yang menggabungkan pengelolaan limbah dengan pendidikan lingkungan. Melalui wawancara dan observasi langsung, Gade mencatat bahwa praktik keagamaan lokal mampu merespons isu global dengan cara yang khas dan kontekstual.
“Pondok pesantren menjadi fondasi utama dalam inisiatif-inisiatif ekoteologi Islam di Indonesia,” tuturnya.
Environmental Studies: Kritik atas Pendekatan Sekuler
Dalam kerangka Environmental Studies, Gade mengajak para akademisi untuk memberi ruang pada ekspresi keagamaan dalam studi lingkungan. Ia mengkritisi pendekatan ekologi yang terlalu sekuler dan berpusat pada Barat, karena kerap gagal memahami cara komunitas Muslim mengekspresikan kesadaran ekologis mereka.
“Studi lingkungan harus bersifat lokal, kontekstual, dan menghargai pluralitas cara pandang terhadap alam,” tegas Gade.
Melalui ketiga kerangka tersebut, Gade mendorong sinergi antara ilmu agama, etika sosial, dan studi lingkungan. Menurutnya, hanya dengan menyatukan tradisi keilmuan Islam dan pendekatan ilmiah modern, umat manusia dapat merumuskan cara pandang baru yang lebih menyeluruh dalam menyelamatkan bumi.
“Inilah tiga kerangka kerja ekoteologi Islam yang dapat dipedomani dalam konferensi ini. Buku saya akan membuka ruang dialog antara tradisi keilmuan Islam dan sains kontemporer, serta menawarkan kerangka berpikir baru untuk menjawab tantangan lingkungan,” tandas Gade.
Wcp/Mr



