Jakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) menggelar International Conference on Religious Moderation (ICROM) 2024 di Jakarta, Selasa (5/11/2024), untuk merumuskan strategi menghadapi tantangan sosial, lingkungan, dan kemanusiaan. Konferensi ini mempertemukan berbagai pemikiran baru tentang moderasi beragama sebagai pendekatan dalam menjawab isu keagamaan lintas negara sekaligus memberi solusi atas tantangan global.
Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin mengatakan, konferensi ini dirancang untuk menguatkan penerapan moderasi beragama di Indonesia dalam menghadapi gempuran ideologi kekerasan dan menjaga keharmonisan sosial. “Moderasi beragama menjadi instrumen penting menghadapi ideologi kekerasan dan mempertahankan kerukunan antarmanusia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa kemajuan teknologi mendekatkan manusia dari berbagai belahan dunia, tetapi juga memicu krisis lingkungan dan tantangan moral. "Teknologi mendekatkan kita, namun juga menguji kemanusiaan dan etika dalam kehidupan modern," kata Kamaruddin.
ICROM 2024 menyoroti empat subtema utama, yakni moderasi beragama dalam konteks etika dan keadilan, keamanan global, kesehatan dan pembangunan manusia, serta tantangan lingkungan. Keempat subtema ini diharapkan dapat menjawab isu-isu mendesak di era modern melalui penelitian yang dikurasi oleh para ahli di bidang masing-masing.
Menurut Kamaruddin, ICROM 2024 bertujuan memperkuat nilai-nilai moderasi beragama agar mampu menjawab masalah-masalah kontemporer secara efektif, termasuk perubahan iklim, hambatan pertumbuhan, dan tantangan pembangunan manusia. “Diharapkan, paper yang terpilih dapat memberi warna baru dan diterapkan sebagai solusi konkret atas tantangan kemanusiaan dan keagamaan global,” jelasnya.
Sementara itu, Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik, Dedi Slamet Riyadi melaporkan, ICROM 2024 menyeleksi 70 dari 334 paper yang masuk dari peserta lintas negara. Tema yang diangkat diharapkan memberi kontribusi nyata bagi isu moralitas, keadilan, dan kesehatan global. “Dengan moderasi beragama, kita dapat membangun perdamaian di tingkat nasional dan menguatkan solidaritas global,” ungkap Dedi.
Dedi menambahkan, salah satu agenda ICROM 2024 adalah diskusi mengenai buku "Travelling Home" karya Syekh Abdal Hakim Murad, yang mengupas tantangan komunitas Muslim di Eropa dalam menghadapi diskriminasi dan mempertahankan identitas di tengah budaya Barat. "Tantangan yang dihadapi Muslim Eropa bisa saja terjadi di komunitas Muslim lainnya, termasuk di Indonesia," tutup Dedi.
Fn/Mr



