Jakarta, Bimas Islam --- Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menyatakan, Indonesia merupakan representasi paling sejati dari Islam. Hal ini disampaikan Nasaruddin saat menjadi pemateri dalam Rapat Koordinasi Direktorat Penerangan Agama Islam (Penais) Kementerian Agama Tahun 2021.
"Indonesia ini merepresentasikan Islam . Orang tidak bisa mengatakan Islam ketinggalan zaman ketika Indonesia paralel dengan perkembangan ekonomi modern yang ditunjukkan dalam bergabungnya Indonesia pada Kelompok 20 Negara (G20) bersama Turki," ungkap Nasaruddin, Rabu (17/3/21).
Nasaruddin melanjutkan, Islam tidak bisa dituduh identik dengan kekerasan karena Indonesia sebagai negara besar dengan penduduk Muslim terbesar dalam kondisi damai dan saling menghargai.
"Orang tidak bisa mengatakan Islam anti keseteraan gender, bahkan Hillary Clinton mengatakan, siapa mau belajar kesetaraan gender datanglah ke Indonesia," tambahnya.
Nasaruddin mencontohkan berkumpulnya kaum pria dan wanita di berbagai bidang kehidupan, seperti di pasar, sekolah, dan lainnya.
"Kalau ke negara Timur Tengah dan pergi ke pasar tradisional, penjualnya pria, pembelinya pun pria. Tapi di Indonesia, di pasar tradisional kita bisa melihat penjual dan pembeli dari kalangan laki-laki dan perempuan," terangnya.
Begitu pula dalam hal tuduhan Islam sebagai pendukung terorisme, anti hak asasi manusia (HAM), anti demokrasi, semua tuduhan tersebut terbantahkan dengan praktik keagamaan dan kebangsaan di Indonesia.
"Kita memperbaiki kualitas dan citra Islam. Jika Islam itu orang, maka ia sangat berterima kasih kepada Indonesia. Karena Indonesia mencitrakan Islam secara positif dan sekarang kita jadi rujukan," pungkasnya.
(Pirman)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Penjelasan Kemenag tentang Program Wakaf Saham Masjid Istiqlal
Jakarta, Bimas Islam --- Penyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar terkait Masjid Istiqlal, Wakaf Tunai, dan Bursa Efek Indonesia mendapat perhatian yang luas…



