Jakarta, Bimas Islam — Pemerintah Indonesia dan Malaysia menegaskan komitmen dalam menjaga nilai-nilai moderasi beragama melalui berbagai program. Kedua negara serumpun ini menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, ulama, akademisi, hingga masyarakat untuk membangun kehidupan yang damai, toleran, dan inklusif.
Kesamaan visi tersebut dibahas dalam diskusi yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube Voice of Indonesia (VOINews Indonesia), Rabu (30/4/2025). Diskusi tersebut menghadirkan Kasubdit Kemasjidan Kementerian Agama RI, Akmal Salim Ruhana, dan Atase Pendidikan Kedutaan Besar Malaysia di Indonesia, Muhammad Samsuri bin Ghazali.
Akmal menyampaikan, salah satu cara untuk menebar nilai-nilai moderasi beragama adalah melalui masjid. Dikatakannya, masjid memiliki peran strategis dalam menyemai nilai-nilai moderasi beragama. Selain itu, masjid juga berperan dalam mendukung pelestarian lingkungan melalui pendekatan ekoteologi.
“Pak Menteri (Nasaruddin Umar) punya program ekoteologi, pengembangan peran agama bagi lingkungan. Istiqlal jadi contoh masjid ramah lingkungan yang tidak harus totalitas menggunakan panel surya, tapi bisa dimulai dari hal sederhana seperti sanitasi yang baik, pengelolaan air, dan penanaman pohon,” jelas Akmal.
Sementara itu, Samsuri mengungkapkan pentingnya peran Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) sebagai wadah dialog lintas negara dalam memperkuat pemahaman dan praktik keberagamaan.
“Melalui MABIMS, setiap negara punya perwakilan untuk saling belajar dan memahami keunikan masing-masing. Ini bukti konkret bahwa moderasi itu tentang toleransi dan saling memahami perbedaan,” ujarnya.
Dalam diskusi tersebut, Samsuri juga menyampaikan gagasan pembentukan Majelis Kendekawan Malindo Madani, sebuah forum intelektual lintas negara yang melibatkan ulama, akademisi, dan pelajar dari Indonesia dan Malaysia. Forum ini diharapkan menjadi pilar kerja sama bilateral dalam menanamkan nilai keberagamaan yang moderat dan kontekstual di tengah dinamika global.
Kedua narasumber sepakat bahwa isu Palestina seharusnya menjadi platform persatuan, bukan sekadar simbol solidaritas. Sikap berpihak pada Palestina dipandang sejalan dengan prinsip keadilan global yang didasarkan pada nilai kemanusiaan dan moderasi.
Menutup diskusi, masing-masing narasumber menyampaikan narasi akronim sebagai simbol pendekatan dalam kerja sama. Samsuri memperkenalkan konsep “4T”: Tak Arif (saling mengenal), Tak Faham (memahami), Ta’awun (bekerja sama), dan Takaful (saling melindungi).
“Kalau kita saling kenal dan saling faham, maka kolaborasi dan perlindungan antarnegeri akan terwujud,” kata Samsuri.
Sementara itu, Akmal menyampaikan pendekatan 3B: Beragam, Beragama, Bersama. “Kita harus jujur pada realitas bahwa kita beragam, namun justru di situlah kekuatan kita untuk maju bersama,” pungkas Akmal.
Fn/Mr



