Jakarta, Bimas Islam -- Belakangan marak terjadi bencana alam di Indonesia. Seperti gempa, Tsunami, banjir, tanah longsor, dan gunung meletus. Di tengah bencana alam yang terjadi, tak sedikit orang yang menyatakan bahwa bencana alam yang terjadi akibat dosa dan kemaksiatan masyarakat Indonesia. Bahkan baru-baru ini, gempa bumi yang terjadi di Garut, Jawa Barat akibat kemaksiatan dan dosa masyarakat.
Lantas benarkah bencana alam yang terjadi di Indonesia akibat dari dosa dan kemaksiatan masyarakat Jawa Barat? Sejatinya, dalam Al-Qur’an ketika terjadi bencana, seseorang harus intropeksi diri. Andaikan kita merasakan bahwa terjadinya bencana alam akibat kesalahan dan dosa yang kita lakukan, Islam menyuruh kita memperbaikinya.
Sementara itu, bila kita menganggap itu bukan karena kesalahan kita, maka kita menganggap itu sebagai ujian supaya kita mendapat suatu tempat dan kedudukan di sisi Tuhan. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman', padahal mereka itu belum diuji.”
Menurut Quraish Shihab dalam Shihab dan Shihab Bincang-Bincang Seputar Tema Populer ajaran Islam, menjelaskan larangan menuding seseorang akibat bencana. Dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menjelaskan bahwa Allah mengecam sekelompok umat terdahulu, karena mereka beranggapan Nabi mereka penyebab mereka mengalami sial dan musibah.
Allah berfirman dalam Q.S Yasin ayat 18:
قَالُوٓا۟ إِنَّا تَطَيَّرْنَا بِكُمْ ۖ لَئِن لَّمْ تَنتَهُوا۟ لَنَرْجُمَنَّكُمْ وَلَيَمَسَّنَّكُم مِّنَّا عَذَابٌ أَلِيمٌ
“Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami,”.
Lebih lanjut, dalam Al-Qur’an menjelaskan penyebab bencana karena manusia mengekploitasi alam. Sehingga terjadi bencana ekologi. Seperti bencana banjir dan tanah longsor.
Allah berfirman :
ظَهَرَ الۡفَسَادُ فِى الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ اَيۡدِى النَّاسِ لِيُذِيۡقَهُمۡ بَعۡضَ الَّذِىۡ عَمِلُوۡا لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُوۡنَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena tangan manusia, sehingga Allahmencicipkan kepada mereka mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),”.
Menurut Ibn A’syur, alam raya telah diciptakan oleh Allah dalam satu sistem yang sangat serasi dan sesuai dengan kehidupan manusia. Sayangnya, manusia melakukan ekploitasi dan berbuat binasa sehingga terjadi kepincangan dan ketidakseimbangan di dalam sistem alam semesta. Dalam kitab al-Tahrir wa al- Tanwir karya Ibn A’syur, juz X halaman 111-112, ia berkata:
ويجوز ان يكون المعنى ان الله تعالى خلق العالم على نظام محكم ملاؤم صالح للناس فاحدث الانسان فيه اعمالا سيئة مفسدة
“Makna ayat (baca: Q.S. ar-Rum; 41) bahwa Allah adalah pencipta alam dengan susunan hukum alam yang sesuai bagi kehidupan manusia, tetapi manusia membuat kerusakan yang merugikan,”
Selanjutnya ada juga ayat Al-Qur’an Allah tak akan menurunkan bencana padahal manusia masih ada yang meminta ampun kepada Allah. Dalam Q.S Al-Anfal ayat 33:
وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun,”
Bukti lain, bencana di Indonesia bukan karena adzab Allah ialah umat Muhammad merupakan umat terkasih. Dalam surat al-Anfal ayat 33, Allah menjelaskan bahwa Allah tak akan menurunkan adzab, sebab di tengah umat masih ada yang beristigfar dan meminta ampun pada Allah. Artinya, di tengah ratusan juta masyarakat Indonesia dan milian di dunia, masih banyak yang taat dan meminta ampunan Allah di pagi dan malam hari.
Dengan demikian, bencana alam itu disebabkan dua hal, yakni bencana alam terjadi akibat kejadian alam (natural disaster). Kedua, bencana alam ulah tingkah dan laku manusia (man-made disaster) —tega hati mengekploitasi sumber daya alam yang menyebabkan kerusakan lingkungan—, tidak merupakan adzab dari Allah.
(Tim Layanan Syariah)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



