Jakarta, Bimas Islam -- Instruktur Nasional Program Bina Keluarga Sakinah, Pera Sopariyanti, memaparkan sejumlah penyebab maraknya perkawinan anak di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari perspektif agama, keluarga dan tradisi, cara pandang lama terhadap perempuan, dan dominasi komunitas. Paparan itu disampaikannya pada materi Perspektif Pencegahan Perkawinan Anak dan Pencegahan Stunting dalam kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Fasilitator Bimbingan Remaja Usia Sekolah Angkatan I, Senin (20/3/2023), di Jakarta.
“Ada banyak sekali yang menyebabkan masalah (perkawinan anak). Ada asumsi, keyakinan, nilai-nilai, serta praktik budaya yang secara tidak sadar memengaruhi alam bawah sadar,” ujarnya.
“Persepektif agama, misalnya, bicara pencegahan zina. Banyak digunakan kalimat, ‘daripada zina’. Padahal, belum tentu (zinanya) dilakukan,” jelas Pera.
Penyebab perkawinan anak selanjutnya, menurut Pera, yaitu sudut pandang keluarga dan tradisi yang diturunkan dari orang tua, yang menilai bahwa perkawinan di usia muda merupakan hal wajar.
“Cara pandang lama terhadap perempuan, (menyebabkan) perempuan malu jika tidak menikah di usia muda. Kemudian, perempuan dinilai tidak perlu sekolah tinggi,” lanjutnya.
Pera menuturkan, penyebab selanjutnya adalah dominasi komunitas, yang juga memengaruhi seseorang untuk melakukan perkawinan anak. Menurutnya, komunitas yang sudah memandang baik perkawinan anak, sangat sulit dilawan.
Pera mengatakan, kampanye nikah muda di media sosial gencar dilakukan sejumlah kelompok. Hal ini, menurutnya, membahayakan generasi muda, karena akan muncul anggapan bahwa perkawinan di usia muda merupakan hal yang menyenangkan.
“Ini adalah tantangan terbesar, bagaimana kita menghadapi kelompok-kelompok yang mau menjadikan anak-anak kita sebagai obyek,” jelas Pera.
Terakhir, Pera mengingatkan para peserta untuk peduli pada generasi muda, sesuai perintah Allah SWT yang tercantum dalam surah an-Nisa ayat 9.
“Tugas kita bersama menciptakan umat nabi yang berkualitas,” pungkasnya.
Bimtek Fasilitator Bimbingan Remaja Usia Sekolah Angkatan I digelar selama empat hari, Minggu-Rabu (19-22/3/2023). Peserta dalam kegiatan ini merupakan penghulu, penyuluh agama Islam, dan perwakilan sejumlah organisasi keagamaan.
Mr



