Jakarta, Bimas Islam --- Analis Kebijakan Ahli Muda pada Seksi Penyuluhan dan Pengembangan Syariah Ditjen Bimas Islam Kemenag, Husni Ismail menjelaskan, bulan Ramadan memiliki satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam itu, kata dia, disebut sebagai Lailatul Qadar.
“Setidaknya ada tiga makna Al-Qadar, salah satunya adalah malam kemuliaan,” ujar Husni dalam Kuliah Zuhur Masjid Al-Ikhlas bertajuk ‘Lailatul Qadar untuk Suatu Perubahan’ di Kantor Kementerian Agama RI, Jalan MH. Thamrin No. 6, Jakarta Pusat, Senin (11/4).
Pertama, jelas Husni, Qadar artinya kemuliaan. Menurutnya, di dalam tafsir Al-Qur’an terjemah cetakan Kementerian Agama, kata tersebut yang dipilih. “Mengapa Al-Qadar disebut sebagai malam kemuliaan? Karena pada malam itu Al-Qur’an Al-Karim diturunkan,” katanya.
“Al-Qur’an, kitab suci umat Islam turun melalui tiga proses. Al-Qur’an turun pada malam Al-Qadar pada dua proses yaitu dari Allah ke Lauhul Mahfuz dan turun dari Lauhul Mahfuz ke langit dunia utuh satu mushaf dari Al-Fatihah hingga An-Naas. Proses ketiga, turun dari langit dunia kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur,” imbuhnya.
Kedua, kata Husni, Qadar artinya sempit. Hal ini, menurutnya, mengacu pada Surah Ar-Ra’d ayat 26 bahwa Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya, dan Allah menyempitkan rezeki kepada hamba-hamba yang dikehendaki-Nya.
“Kenapa Lailatul Qadar dikatakan sebagai malam yang sempit? Pada malam itu, turun begitu banyak malaikat sehingga bumi ini penuh sesak dengan para malaikat dan membuat bumi menjadi sempit, bumi menjadi penuh sesak. Pada malam Al-Qadar suasana damai, hening, teduh menyelimuti pribadi-pribadi yang mengalami Al-Qadar,” katanya.
Ketiga, lanjut Husni, Qadar artinya penentuan. Dia menjelaskan, pada Lailatul Qadar akan diatur kembali garis kehidupan yang akan dijalani manusia setelah Ramadan. “Makna ini bisa dimaknai penentuan ulang takdir yang akan dijalani oleh pribadi-pribadi yang mengalami Al-Qadar,” katanya.
Husni menerangkan, para ulama berbeda pendapat terkait waktu terjadinya Lailatul Qadar. Misalnya, dia mencontohkan, para ulama di Timur Tengah mayoritas berpendapat Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27.
“Tapi yang pasti sesuai janji Allah adalah setelah Lailatul Qadar kedamaian akan melingkupi dan meliputi orang yang mendapatkan kemuliaan Lailatul Qadar hingga terbit fajar. Hal ini sebagaimana dalam Surah Al-Qadar ayat terakhir,” tambahnya.
(Rendi)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



