Jakarta, Bimas Islam — Direktur Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, menyebut bahwa teori penciptaan alam semesta yang dikenal dunia sebagai Big Bang sebenarnya telah dibahas dalam kitab tafsir klasik karya ulama Islam. Menurutnya, warisan keilmuan Islam menyimpan kekayaan sains yang hari ini justru tidak dikenal oleh generasi muslim sendiri.
Pernyataan itu disampaikan Islah saat menjadi narasumber Dialog Nasional: Geopolitik, Meneguhkan Nasionalisme, Stabilitas Nasional dan Persatuan Bangsa yang digelar Direktorat Penerangan Agama Islam, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam), Kementerian Agama, Rabu (30/7/2025) di Auditorium HM. Rasjidi Kemenag RI, Jakarta.
“Syekh Muhammad Thahir bin Ashur dalam tafsirnya menyampaikan teori penciptaan semesta yang disebut Al-Taqbis wal-Taqbisol, penyatuan dan pencahayaan energi. Ini mirip dengan teori Big Bang yang dipopulerkan oleh Stephen Hawking, tetapi berbasis pada Al-Qur’an,” ungkap Islah di hadapan peserta dialog yang terdiri dari pimpinan ormas Islam, aktivis, dan akademisi.
Menurut Islah, ulama besar tersebut menjelaskan penciptaan alam semesta berdasarkan petunjuk ayat-ayat tentang cahaya dan energi. Ia menggarisbawahi bahwa konsep penciptaan dalam Islam sangat ilmiah, namun tidak pernah dikembangkan menjadi fondasi pendidikan umat.
“Masalahnya, siapa yang masih membaca kitab-kitab seperti itu hari ini? Generasi kita tidak mengenal warisan keilmuan sendiri, padahal itu adalah fondasi peradaban Islam,” katanya.
Islah menekankan bahwa kemunduran umat Islam terjadi bukan karena minimnya kekuatan politik, tetapi karena sikap abai terhadap ilmu pengetahuan. Ia menyayangkan bahwa ilmu-ilmu warisan ulama besar justru dilupakan, sementara umat sibuk dalam konflik politik yang terus-menerus melemahkan internal umat.
“Dulu Islam pernah menguasai dunia karena kekuatan ilmu. Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Farabi, Jabir ibn Hayyan, mereka bukan politisi, mereka ilmuwan. Dan itulah yang membuat Islam dihormati dunia,” ujar Islah.
Ia menambahkan, ketika musuh-musuh Islam ingin melemahkan peradaban muslim, yang pertama mereka serang bukanlah khalifah atau tentara, tapi ilmuwan dan guru. “Ilmu adalah jantung umat ini. Kalau kita kehilangan ilmu, kita kehilangan arah,” tegasnya.
Islah mengingatkan bahwa proyek sekularisasi pemikiran secara global tengah berlangsung massif. Anak-anak muslim hari ini, katanya, disuguhi buku-buku ateistik seperti The God Delusion karya Richard Dawkins dan Brief History of Time milik Stephen Hawking, tanpa ada panduan atau penyeimbang dari literatur Islam sendiri.
“Inilah kenapa keimanan generasi muslim hari ini lemah. Mereka tidak diajak berdialog dengan ilmu. Padahal ulama kita sudah sejak lama membahas hal-hal itu dalam kerangka tauhid,” jelasnya.
Ia juga mengkritik keras orientasi politik umat Islam yang menurutnya kerap dibangun tanpa visi peradaban. “Sejarah Islam menunjukkan bahwa kekuasaan tanpa akhlak dan ilmu hanya melahirkan kehancuran. Rasulullah bahkan tidak pernah menunjuk penggantinya, karena Islam bukan agama warisan kekuasaan,” ujarnya.
Dalam konteks geopolitik, Islah menyebut bahwa dunia saat ini tengah menyaksikan pertarungan narasi dan pengaruh, bukan sekadar perebutan wilayah. Umat Islam, menurutnya, perlu hadir dengan narasi ilmiah dan spiritual yang kuat, bukan larut dalam politik identitas sempit.
“Kalau Islam ingin kembali berjaya, jangan mulai dari perebutan kekuasaan. Mulailah dari membaca, dari riset, dari membangun sekolah dan pusat studi. Karena hanya ilmu yang bisa menyelamatkan umat,” pungkasnya.
Dialog nasional ini merupakan bagian dari program penguatan harmoni dan wawasan kebangsaan berbasis ormas Islam yang digagas Ditjen Bimas Islam. Acara ini turut dihadiri Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Wakil Menteri Agama Romo R. Muhammad Syafi'i, serta narasumber pakar komunikasi politik Gun Gun Heryanto dan Staf Khusus Menteri Agama Faried Saenong yang dimoderatori oleh Gus Romzi Ahmad.
An/Mr



