Jakarta, Bimas Islam --- Kaum Muslimin memperingati Isra’ dan Mi’raj 1433 H bertepatan dengan 28 Februari 2022. Pada momen ini, Sekretaris Ditjen (Sesditjen) Bimas Islam Kemenag, M. Fuad Nasar mengajak kaum muslimin untuk meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan amal serta mengoptimalkan peran masjid sebagai pusat pembinaan umat.
Sesditjen mengatakan, peringatan Isra’ dan Mi'raj memiliki keterkaitan dengan kewajiban shalat lima waktu sebagai tiang agama. Menurutnya, shalat merupakan ibadah yang menghubungkan jiwa manusia dengan Sang Maha Pencipta.
“Di mana saja dan dalam kesibukan apa saja ibadah shalat mengingatkan umat Islam bahwa aktivitas dunia haruslah selalu dikaitkan dengan Allah. Panggilan azan setiap waktu shalat menjadi pengingat bahwa Allah Maha Besar dan hanya Dia (Allah) yang berhak disembah dan diagungkan di alam semesta,” kata Fuad melalui keterangan tertulis yang diterima bimasislam, Senin (28/02).
Fuad menjelaskan, peringatan Isra' dan Mi'raj mengingatkan umat Islam untuk berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dalam rangka menguak rahasia-rahasia alam semesta.
“Pada malam Isra' dan Mi'raj, Nabi yang mulia diperjalankan dari Masjid Al Haram ke Masjid Al Aqsha, dan naik ke Sidratul Muntaha. Mari kita renungkan, kenapa dari masjid ke masjid, karena masjid melambangkan kesucian jiwa, pikiran, dan perbuatan, sedangkan ruang angkasa melambangkan obsesi ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang ingin dicapai oleh manusia setinggi-tingginya. Pesan moralnya bahwa nilai-nilai kesucian dan kebenaran seyogyanya terjaga dalam segala situasi, termasuk di bidang Iptek yang tidak bebas nilai, tetapi harus dipandu oleh agama dan moral,” ujarnya.
Selain itu, Fuad mengatakan, Isra' dan Mi'raj memiliki hikmah yang menyingkap tiga relasi perenial dalam kehidupan manusia. Pertama, hubungan manusia dengan Khaliknya (Allah Maha Pencipta). Kedua, hubungan manusia untuk dirinya pribadi. Ketiga, hubungan manusia dengan sesama manusia.
“Itu semua terangkum di dalam hikmah ibadah shalat yang diinstruksikan langsung oleh Allah kepada Rasulullah Muhammad di dalam peringatan Isra dan Mi’raj,” tuturnya.
Terakhir, Fuad mengutip pernyataan ulama internasional Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili yang mengatakan bahwa Isra' dan Mi'raj adalah “perjalanan Ilahiyah” yang tiada bandingannya dan hanya berlaku satu kali dalam sejarah.
“Tidak pernah ada di dalam sejarah kemanusiaan suatu peristiwa yang berhak untuk dibanggakan dan dikagumi, diagungkan dan dianggap suci seperti halnya Isra’ dan Mi’raj yang menjadi mukjizat, lambang kebesaran, dan kehormatan bagi Nabi dan Rasul Islam, Muhammad Saw,” pungkasnya.
(Tommy)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



