Jakarta, Bimas Islam — Jalur Pantura yang identik dengan cuaca panas dan kepadatan kendaraan, berubah menjadi jalur penuh keteduhan selama Ramadan dan Lebaran 1446 H/2025 M. Sepanjang ruas jalan ini, masjid-masjid hadir bagaikan oase: buka 24 jam, menyediakan ruang istirahat, hingga menyajikan pijat serta makanan gratis bagi para musafir.
Di balik debu dan lelah perjalanan, para pemudik menemukan jejak ketulusan dari program Masjid Ramah Pemudik yang diinisiasi Kementerian Agama (Kemenag).
Salah satu masjid yang berhasil menjalankan program ini adalah Masjid Al-Mubarokah di Desa Tengguli, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Letaknya yang strategis di tepi jalan utama menjadikannya lokasi ideal bagi pemudik untuk beristirahat, tidak hanya untuk salat, tetapi juga melepas penat. Masjid ini dilengkapi fasilitas tempat tidur darurat, kamar mandi bersih, serta aliran air yang mencukupi.
Kemenag Kabupaten Brebes turut mendukung dengan menyalurkan bantuan logistik ke lima hingga tujuh masjid yang difungsikan sebagai posko mudik. Setiap hari, dua kardus mi instan kemasan gelas dan kopi didistribusikan untuk menunjang kenyamanan pemudik.
Cerita serupa hadir dari Masjid Al-Fairus di Pekalongan, Jawa Tengah. Masjid ini tak hanya buka 24 jam, tetapi juga menyediakan layanan pijat gratis, potong rambut, dan pemeriksaan kesehatan tanpa biaya. Selain itu, masjid ini membuka ruang bagi UMKM lokal untuk menjajakan produk khas Pekalongan seperti batik dan kuliner daerah.
Di Jawa Timur, Masjid Jami’ At-Taqwa Paciran, Lamongan, juga menjadi tempat istirahat favorit pemudik. Berlokasi di tepi jalur Pantura dan menghadap laut, masjid ini memberi suasana tenang serta fasilitas lengkap seperti ruang rehat, toilet bersih, dan minuman dingin. Operasional masjid dikelola secara mandiri, salah satunya melalui infak parkir sukarela. Selama Ramadan, takjil dan nasi kotak dibagikan rutin, dan pengajian tetap berjalan seperti biasa. Meski kecil dan sederhana, lokasinya yang dekat pelabuhan dan terminal menjadikannya titik singgah penting bagi pemudik yang menggunakan kapal laut, bus, maupun travel.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag, Abu Rokhmad, menyampaikan, program Masjid Ramah bagi Musafir dan Pemudik mendapat apresiasi dari Menteri Agama, Nasaruddin Umar.
“Sebelum acara Halalbihalal, Pak Menteri menyampaikan pujian kepada Bimas Islam. Beliau katakan, ‘Pak Dirjen, masjid bagus, ya’. Itu pengakuan besar atas kerja kolektif seluruh jajaran,” ujar Abu kepada wartawan, Senin (14/4/2025).
Abu menambahkan, program ini membuktikan bahwa pelayanan publik berbasis keagamaan dapat hadir secara nyata dan memberi dampak langsung. “Berdasarkan data dari 8.710 masjid di 34 provinsi, tercatat sebanyak 1.617.641 pemudik telah memanfaatkan layanan Masjid Ramah,” ungkapnya.
Program tersebut mengacu pada Surat Edaran Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2025 tentang Panduan Penyelenggaraan Ibadah Ramadan dan Hari Raya Idulfitri. Surat edaran tersebut mendorong masjid dan musala di jalur mudik untuk buka 24 jam serta menyediakan layanan dasar bagi para musafir.
“Langkah-langkah kreatif dan responsif dari takmir masjid merupakan wujud nyata dakwah bil hal. Semoga ke depan, masjid terus menjadi ruang yang hidup, membumi, dan mengayomi siapa pun yang datang,” tutup Abu.
Wcp/Mr



