Lingga, Bimas Islam -- Kepulauan Riau dikenal dengan bentangan laut dan gugusan pulaunya yang eksotis. Di balik panorama itu, tersimpan cerita tentang ketekunan Kantor Urusan Agama (KUA) dalam menjangkau masyarakat hingga ke sudut-sudut terluar, menjalankan peran strategis dalam menghadirkan layanan keagamaan di daerah-daerah pesisir dan komunitas adat.
KUA Senayang, Kabupaten Lingga, melakukan pendekatan berbasis kearifan lokal dalam pelayanan. Para penghulu hadir di tengah masyarakat, mendampingi dalam proses pencatatan nikah hingga pembinaan keluarga sakinah. Kegiatan dilakukan secara langsung, menjangkau titik-titik pemukiman yang terpencar di pulau-pulau kecil.
Pulau Senayang merupakan salah satu sentra pemukiman masyarakat adat Suku Laut. Di wilayah ini, layanan pencatatan nikah dilakukan secara keliling, menyesuaikan dengan pola hidup komunitas yang sebagian besar masih berpindah-pindah. Penyuluhan keagamaan pun dirancang berbasis komunitas, menyesuaikan dengan budaya dan cara hidup lokal.
Sementara itu, di Selat Konki, daerah terpencil yang juga menjadi rumah bagi masyarakat Suku Laut, KUA menghadapi tantangan geografis yang tak ringan. Akses menuju daerah ini tidak selalu mudah, namun semangat pelayanan tetap mengalir. Program jemput bola menjadi andalan, termasuk menjalin kolaborasi dengan tokoh masyarakat setempat.
Salah satu kegiatan yang menonjol di Selat Konki adalah keberadaan majelis taklim yang dipandu oleh penyuluh agama perempuan. Kegiatan ini tak hanya berfungsi sebagai ruang pembelajaran agama, tetapi juga menjadi wadah pemberdayaan perempuan adat dalam mengelola kehidupan sosial dan spiritual mereka.
Upaya KUA Senayang di dua wilayah ini mencerminkan wajah pelayanan yang tidak hanya administratif, tetapi juga transformatif. Dengan hadir di tengah masyarakat yang jauh dari pusat kota, KUA memperlihatkan bahwa layanan keagamaan adalah hak semua warga negara, termasuk mereka yang hidup di pulau-pulau kecil dan memegang erat tradisi leluhur.
Melalui pendekatan yang inklusif dan berakar pada nilai-nilai lokal, KUA Senayang menjadi contoh nyata bahwa negara hadir secara bermakna dalam kehidupan masyarakat adat. Bukan sekadar pencatat peristiwa keagamaan, tetapi juga mitra dalam membangun harmoni sosial dan memperkuat nilai spiritual di pelosok negeri.
Mdl/Mr



