Sukabumi, bimasislam – Memasuki usianya yang ke 105, pada bulan Maret 2019 Kota Sukabumi semakin meneguhkan posisinya sebagai daerah dengan perhatian literasi yang tinggi. Dengan menjadikan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan di Kota Sukabumi, sebagai stempel sahnya penobatan daerah sadar literasi, maka berlahiran pula program-program unggulan lainnya, dua diantaranya adalah Jambore Sukabumi Gemar Membaca (Sugema, Tahun 2016) dan Festival Literasi Sekolah (2019).
Melihat arah dan tren positif Kota Sukabumi sebagai Kota Literasi, tentu saja tidak bisa dilihat dari ruang kesejarahan yang kosong dan tanpa akar. Setidaknya jika dirunut lebih awal, maka dapat terekam babak-babak penting, saat dimana beberapa tokoh penting turut andil mewariskan tradisi literasi mereka sejak jauh hari.
Islam sebagai agama yang lahir dari tinta-tinta pengetahuan, dalam perkembangannya di tanah Sukabumi, tampak dalam satu tarikan nafas mengiringi lahirnya karya-karya agung dari para sosok yang dikenal sebagai ajengan-pejuang-intelektual. Adalah Kitab Raudlat al-Irfan fii Ma’rifati al-Qur’an, Karya Kyai Ahmad Sanusi (l.1888), Kitab Kaifiyatusshalat;Manqûlât Muhimmah min al-Kutub al-Syâfi’iyyah, Karya KH. Masthuro (Pendiri Pesantren Al-Masthuriyah, l.1901), Kitab Tafsir Al-Qur’anul Hakim “Ad-Dakwah” Karya KH. Dadun Abdulqahhar (l.1936) hingga beberapa terjemah kitab-kitab Mu’tabarah seperti Alfiyah Ibn Malik, Riyadu as-shalihin, dan Al-Hikam yang berhasil dialihaksarakan ke Bahasa sunda pegon oleh generasi kiwari, KH. Ahmad Makki seakan menjadi bukti bagaimana kekayaan literasi itu berasal (Ginanjar Sya’ban; 2018).
Syahdan, jika ditelusuri satu-persatu tentu masih banyak lagi karya-karya lainnya yang lahir dari negeri pasundan ini. Demi menguji keabsahan catatan-catatan itu semua, Bimasislam kurang lebih seminggu menjelang Ramadan 1440 H, melakukan perjalanan ke Kota Sukabumi, dan menemukan sedikitnya ada tiga jejak literasi lainnya yang turut menguatkan tesis utama pada dua paragaf di awal tulisan ini.
Kompetisi Penulisan Naskah Khutbah
Jejak pertama yang mewarnai tradisi literasi Islam di Kota ini salah satunya ditemukan pada saat pelaksanaan Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke 73 Tahun 2019, yaitu dengan digelarnya Kompetisi Penulisan Naskah Khutbah Jumat bagi para Penyuluh Agama Islam PNS dan Non PNS. Bagi masyarakat Sukabumi yang notabene dominan beragama Islam, maka Khutbah Jumat sebagai salah satu syarat pelaksanaan Shalat Jumat merupakan fase penting dalam momen ibadah mingguan tersebut. Khutbah jumat yang dilakukan dua kali, di antara khutbah pertama dan kedua serta dipisah dengan duduk, memiliki beberapa rukun yang harus dipenuhi. Dimulai dengan membaca hamdalah, shalawat Nabi dan nasihat bertakwa di kedua khutbah, sembari membaca ayat suci al-Quran di salah satu dua khutbah serta membacakan doa untuk umat Islam di Khutbah kedua. Dengan diadakannya lomba penulisan khutbah jumat yang mewarnai rangkaian HAB Kementerian Agama ke 73, cukup menjadi penanda terjaganya tradisi dakwah yang semula bersandar pada kefasihan lisan dan kini berbuah menuju kepiawaian dakwah melalui tulisan. Mencatat pelaksanaan ajang bergengsi dengan mengangkat literasi sebagai metode kompetisi seperti yang dilakukan Kementerian Agama Kota Sukabumi ini menjadi sangat penting dan berharga di tengah semakin krisisnya citra “intelektual” pada organisasi pemerintah dengan semboyan ikhlas beramal ini.
Sang Penyuluh Penulis; Kang Saehudin n D’Genk
Adalah sosok penyuluh agama Islam non pns, Saehudin yang menjadi jejak lain dari mengakarnya tradisi literasi keislaman di Kota Sukabumi. Pria berpenampilan kalem jebolan Sekolah Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung ini dikenal sebagai representasi aparatur Kementerian Agama yang aktif mengabadikan dakwah keagamaannya melalui media tulisan. Tidak kurang lebih dari 10 tulisan yang telah berhasil dibukukan pria kelahiran 37 tahun silam ini. Mulai dari Pengantar Studi Islam Penerbit Pustaka Setia Bandung (2009), Terjemah Kitab Haqiqatul Jin wa Syayathin fi Al-Qur’an wa As-Sunnah (2011), Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan; Studi Ayat-Ayat Berdimensi Pendidikan (2012), Pendidikan dalam Prespektif Al-Qur’an (2015), Hadits Tarbawi; Studi Hadits-Hadits Berdimensi Pendidikan (2016), Akidah Akhlak (2018), Fiqih Lengkap Bagi Keluarga Muslim (2018), hingga beberapa rekam lainnya yang terdokumentasikan dalam bentuk Jurnal, seperti Melacak Akar Historis Pemalsuan Hadits Nabi Saw (2012), Rasm Al-Qur’an (2013) dan Penguatan Tradisi Pesantren Dalam Menumbuhkan Kesolehan Sosial (2016).
Pelakoban sebagai penyuluh penulis tentu tidak mutlak dimiliki oleh sosok Saehudin seorang, karena sematan ini juga melekat pada beberapa penyuluh agama Islam lainnya yang secara rutin mendokumentasikan bahan-bahan dakwah keagamaan dalam bundel kumpulan tulisan. Dalam penelusuran bimasislam, ditemukan satu buku naskah tebal berjumlah sekitar 200 halaman, yang merupakan kompilasi tulisan para penyuluh agama Islam, yang diantaranya ditulis oleh Dedi Rizaludin, Lilis Nurlaela, Deden Zaenal Muttaqin, Idang Mulyana, Epi Sapuroh, Ramli Fadli, Tuti Alawiyah, U Ridwan, Abdul Qodir, Nanan Husnandar dan Encep Suherman. Kumpulan naskah tulisan itu diberikan Judul, “Materi Pembinaan dan Bimbingan Pengelolaan dan Pembinaan Penerangan Agama Islam” yang merupakan hasil laporan program Bimas Islam selama memberikan penyuluhan keagamaan Islam di masyarakat. Penyematan contoh-contoh tulisan yang diabadikan oleh Saehudin dan Penyuluh Agama Islam di Kota Sukabumi, setidaknya menjadi jawaban atas tantangan literasi di era perkembangan teknologi saat ini, seiring dengan bergesernya pola komunikasi dari prosesi tatap muka ke media tulisan maupun visual.
Perpustakaan Masjid Agung: Cikal Kepustakaan Islam
Keberadaan Perpustakaan Masjid Agung Sukabumi adalah wujud lain dari hadirnya tradisi literasi Islam yang mengakar di Kota ini. Masjid Agung yang pertama kali dibangun pada tahun 1838 di atas tanah wakaf Patih Sukabumi, Tumenggung Raden Surya Natabrata ini memiliki jumlah koleksi literatur keislaman yang cukup beragam. Dari sisi pengklasifikasian dan penandaan pada koleksi Perpustakaan Masjid ini menggunakan sistem DDC dengan penomeran 2X untuk konten keagamaan Islam. Meski kuantitas koleksinya berjumlah hampir 600 buah buku dan merupakan produk dari terbitan yang tidak lagi baru, namun dari sisi representasi konten, cukup berkategori “babon” (Kajian Studi Alquran Manna Al Qathan, Jami’ As-Shagir, Ushul Hadits) hingga judul yang sangat beragam ( Fikih Anak, Ensiklopedia Islam dan Sains, Mimbar Jumat dan Alquran Braille). Perpustakaan yang terletak di salah satu sudut Masjid yang memiliki kubah berwarna emas ini, tentu tidak luput dari kekurangan. Dalam catatan bimasislam sedikitnya ada dua pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan,yaitu terkait dengan infrastruktur seperti pada fasilitas rak buku, penambahan jumlah koleksi, maupun dari sisi sumber daya manusia yang bertugas khusus melakukan perawatan dan pengelolaan. Sehingga jika keduanya dapat dipenuhi dan dikembangkan maka wajah Kota Sukabumi sebagai kawah candradimuka literasi di Indonesia semakin kokoh adanya.
Ala kulli hal, potensi tradisi literasi keislaman yang terpotret di Kota Sukabumi tetap merupakan harta karun peradaban yang perlu dipertahankan, dan ghalibnya usaha pengkajiannya dapat ditelusuri-temui pula di kota-kota lainnya di Indonesia. Karena dengan demikian, ketika terbesit sebuah harapan untuk menobatkan Indonesia sebagai kiblat pengetahuan keislaman di dunia bukanlah jargon kosong atau sekadar isapan jempol belaka. Wallahu ‘alam.
Penulis: Syafaat
Editor: Insan Khoirul Qalbi
Foto: Bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



