Jakarta, Bimas Islam— Kementerian Agama (Kemenag) mengerahkan penyuluh agama di seluruh Indonesia untuk terlibat dalam kegiatan bersih-bersih rumah ibadah lintas agama menjelang akhir Desember 2025. Langkah ini dilakukan sebagai upaya merawat harmoni, toleransi, dan kerukunan antarumat beragama, khususnya menjelang perayaan Natal dan libur akhir tahun.
Program tersebut disampaikan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Bimas Islam) Abu Rokhmad dalam Sosialisasi Bersih-Bersih Rumah Ibadah yang digelar secara daring, Selasa (16/12/2025). Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda besar Bimas Islam bertajuk The Wonder of Harmony yang telah berlangsung sejak awal November 2025.
“Menjelang akhir tahun, kita memiliki kepedulian yang sama, bagaimana saudara-saudara kita umat Kristen dan Katolik dapat merayakan Natal dengan baik, lancar, dan nyaman. Pada saat yang sama, ini juga menjadi momentum untuk merawat kerukunan,” ujar Abu Rokhmad.
Ia menjelaskan, terdapat dua kegiatan utama yang digerakkan melalui peran penyuluh agama. Pertama, kegiatan bersih-bersih rumah ibadah, tidak hanya masjid dan musala, tetapi juga gereja-gereja yang akan digunakan untuk perayaan Natal. Kedua, penguatan program rumah ibadah ramah pemudik, mengingat libur akhir tahun kerap menjadi momentum perjalanan masyarakat lintas daerah.
Menurut Abu, keterlibatan lintas umat beragama menjadi kunci keberhasilan dua program tersebut. Penyuluh agama didorong mengajak masyarakat sekitar, tanpa memandang latar belakang agama, untuk terlibat secara bersama-sama.
“Kita ingin menghadirkan nada positif, bahwa kepedulian terhadap rumah ibadah adalah tanggung jawab bersama,” kata Abu.
Selain menyasar rumah ibadah di wilayah perkotaan dan jalur mudik, kegiatan bersih-bersih juga diarahkan ke daerah terdampak bencana, seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Rumah ibadah yang terdampak banjir menjadi prioritas agar kembali layak digunakan untuk kegiatan keagamaan masyarakat.
Dalam pelaksanaan rumah ibadah ramah pemudik, Kemenag mendorong koordinasi antara penyuluh agama, Kantor Wilayah Kemenag, serta Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, terutama Subdirektorat Kemasjidan. Koordinasi tersebut diperlukan untuk menetapkan titik-titik strategis masjid, musala, maupun gereja yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat istirahat sementara bagi pemudik.
Abu Rokhmad mengungkapkan, Desember tidak hanya identik dengan perayaan keagamaan tertentu, tetapi juga menjadi bulan refleksi kerukunan dan toleransi. “Ini adalah bulan saudara-saudara kita yang beragama Kristen dan Katolik, sekaligus bulan kerukunan bagi kita semua,” ujarnya.
Melalui dua program tersebut, Kemenag berharap kehadiran negara dapat dirasakan secara nyata dalam menjaga harmoni sosial. Kegiatan bersih-bersih rumah ibadah dan penyediaan ruang rehat bagi pemudik dipandang sebagai wujud konkret pelayanan keagamaan yang inklusif.
Upaya ini sekaligus menegaskan peran strategis penyuluh agama sebagai garda terdepan dalam merawat persatuan, toleransi, dan harmoni kehidupan beragama di Indonesia, terutama pada momentum akhir tahun.
Fn/Mr



