Putussibau, bimasislam --- Menginjakkan kaki di KUA Kecamatan Badau ini, setidaknya membutuhkan waktu 20 jam dari bandara Supadio Pontianak melalui jalur darat. Namun, transportasi darat bukanlah satu-satunya menuju daerah perbatasan tersebut. Dari Bandara Supadio, terdapat penerbangan menuju Bandara Pangsuma, di kecamatan Putussibau, namun penerbangan tersebut terbilang terbatas. “Hanya ada 2 (dua) kali penerbangan, itu pun kalau cuacanya bersahabat”, ungkap Penyelenggara Syariah Kab. Kapuas Hulu A.A. Syarif yang turut serta mendampingi tim reprotase bimasislam.
Dari Putussibau menuju Kecamatan Badau diperkirakan memakan waktu sekitar 3-4 jam dengan menggunakan jalur darat dengan jarak tempuh sekitar 180 KM. Dalam jarak beberapa kilometer sesekali terlihat rumah penduduk dan rumah Panjang khas adat suku Dayak, di sebelah kanan dan kiri jalan, hanya terlihat pepohonan besar yang berada dalam kawasan hutan lindung yang masih terjaga keasriannya, jalan yang berkelok dan dipenuhi dengan tanjakan serta turunan, membuat perjalanan tidak mudah dan perlu kehati-hatian, meskipun kondisi jalan cukup baik. “Terlebih, pada malam hari, masih kurangnya pencahayaan dari lampu jalan dan juga kabut yang turun tiba-tiba menghalangi jalan”, tambahnya lagi.
Ketika memasuki daerah Kecamatan Badau, terlihat dari kejauhan gedung yang megah dengan warna yang mentereng, karena gedung tersebut sangat kontras sekali dengan rumah penduduk sekitarnya, baik dari sisi bangunannya maupun arsitekturnya. Ya, itulah Gedung Gedung Balai Nikah dan Manasik Haji Kecamatan Badau, yang baru diresmikan oleh Menteri Agama pada akhir tahun 2016 silam. Gedung megah dan mewah ini dibangun menggunakan Pembiayaan SBSN Tahun 2016. Kementerian Agama pun ikut andil membangun infrastruktur di kawasan perbatasan dengan pembangunan Gedung Gedung Balai Nikah dan Manasik Haji di perbatasan. Gedung dengan luas sekitar 8 x 15 meter ini memiliki ruang tamu, ruang menikah, dan 3 (tiga) ruang lain yang belum difungsikan. KUA Kecamatan Badau terletak di Jl M. Ali Nomor 12 Badau. Lokasinya berjarak sekitar 300 meter dari pusat keramaian kecamatan. Di halaman gedung terdapat papan nama bertuliskan: “Kementerian Agama, Balai Nikah dan Manasik Haji Kantor Urusan Agama Kecamatan Badau”.
Adalah Jumyadi, sang juru kunci kantor KUA Kecamatan Badau, pria berbadan kurus dan energik ini harus berbagi tugas sebagai abdi negara, karena disamping menjabat sebagai Kepala KUA Kecamatan Batang Lupar juga sebagai Pelaksana Tugas Kepala KUA Kecamatan Badau.
“Ya, kita tunggu saja kedatangan beliau, mungkin masih sibuk di kantor KUA Kecamatan Batang Lupar yang berjarak 30-40 KM dari KUA Kecamatan Badau, ia memang ditunjuk sebagai Plt. Kepala KUA Kecamatan Badau, karena Pak Sukiman Kepala KUA Kecamatan Badau sebelumnya, per 1 November 2017, telah memasuki purna tugas (pensiun), sementara berdasarkan data penghulu yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu hanya 17 orang, sedangkan KUA Kecamatan di Kabupaten Kapuas Hulu berjumlah 23 Kecamatan, ada 5 KUA yang jabatan Kepalanya di Plt-kan.” terang Kasi Bimas Islam Kabupaten Kapuas Hulu Juanda yang turut serta mendampingi tim reportase bimasislam.
Dalam melaksanakan tugas sehari-hari sebagai Kepala KUA, Jumyadi harus berbagi waktu di dua KUA yang berbeda, dengan jarak tempuh yang lumayan jauh menggunakan sepeda motor, bisa dibayangkan bagaimana perjuangannya melayani masyarakat. “Di 2 (dua) KUA yang saya pimpin, tidak ada penghulu mau pun staf pelaksana, oleh karena itu saya memberdayakan tenaga P3N dalam Pencatatan Nikah, walaupun hanya 25 pasang pernikahan yang tercatat per Desember 2017. Terbatasnya penghulu menjadi alasan utama kenapa saya berdayakan mereka, dan saya mempercayakan kepada P3N untuk menjaga dan melaporkan kegiatan sehari-hari di KUA kecamatan Badau, karena tidak bisa setiap hari saya datang ke kantor ini, apalagi kalau sedang mengikuti kegiatan di luar daerah”, kata Jumyadi mengawali pembicaraan dengan tim reportase bimasislam.
Tapi Alhamdulillah, dengan adanya penyuluh non-PNS, pelayanan kepada masyarakat terus berjalan, Peran penyuluh di masyarakat sangat penting, karena tugas mereka yang langsung terjun dimasyarakat akan membantu KUA dalam hal pembinaan, sosialisasi maupun di dalam mendapatkan informasi dan data, apalagi ini daerah perbatasan yang harus dijaga dari paham-paham keagamaan yang menyimpang. “Saya mengatur jadwal mereka agar dapat meluangkan waktu “ngantor” meskipun tidak setiap hari”, Ujarnya penuh semangat.
Terlihat dari raut wajahnya yang lelah apalagi setelah mengalami kecelakaan sepeda motor ketika ingin menghadiri kegiatan pembinaan pegawai oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat beberapa hari yang lalu di kota Putussibau yang berjarak hampir 180 KM dari tempat ia bertugas. Beliau tetap hadir dan datang ke kantor menunaikan kewajibannya. Walaupun dengan kondisi yang masih sakit dan dengan keterbatasan pegawai terlihat sekali semangat dan keikhlasannya bekerja, semua dilakoninya dengan penuh keikhlasan.
“Kita sangat berharap agar kedepan nanti akan ada tambahan tenaga penghulu, penyuluh ataupun staf pelaksana lebih banyak dari Kabupaten dan lebih fokus kepada pembinaan, mengingat Kecamatan Badau adalah daerah perbatasan, pintu masuk Indonesia, yang sangat membutuhkan tenaga mereka guna membina dan mentransfer ilmu-ilmu agama ke masyarakat, apalagi jalur perbatasan seperti ini, dikhawatirkan banyak paham-paham keagamaan baru yang dibawa dari luar”, pungkas Alumni STIS Syarif Abdurrahman Pontianak.
“Inilah kondisi kami di ujung Pulau Kalimantan, dengan medan yang cukup luas, terkadang Kepala-Kepala KUA di Kabupaten Kapuas Hulu multi fungsi, di satu sisi menempati posisi sebagai kepala, sekaligus staf, juga pada kesempatan lain pengantar surat, mengerek bendera, bahkan menyediakan minuman untuk tamu yang datang, ya seperti mengerjakan tugas sebagai office boy ketika ia harus membersihkan kantornya”, tuturnya bersemangat.
“Kami berharap ada perhatian dari Pusat agar segera mengisi jabatan-jabatan Kepala KUA yang kosong disertai dengan pembinaan-pembinaan sebagai bekal pengabdian di masyarakat”, tutupnya.
Penulis : Jamal Marky
Editor : Jamal Marky
Foto : bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



