Pontianak, Bimas Islam --- Kepala Bidang Urusan Agama Islam (Kabid Urais) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Barat (Kanwil Kemenag Kalbar), Ekhsan mengatakan, di era serba digital saat ini, buku fisik masih penting karena permasalahan buku digital selain berisiko mudah dibajak, buku digital membuat orang bergantung pada gadget.
“Kemunculan buku digital juga salah satu bentuk nyata adanya transformasi tren dan budaya literasi dari tradisional ke dalam bentuk digital. Akan tetapi buku fisik masih tetap relevan dan masih sangat dibutuhkan,” kata Ekhsan saat ditemui di ruangannya, Kanwil Kemenag Kalbar, Kamis (18/11/2021).
“Misalnya ketika membaca buku digital melalui gadget yang terkoneksi internet, maka pembaca mudah terganggu dengan notifikasi media sosial, atau dikit-dikit buka Instagram dan Youtube,” ungkapnya.
Dikatakan Ekhsan, masifnya bantuan perpustakaan buku yang diberikan oleh Kemenag Pusat ke daerah seperti Kalbar, tentu sangat membantu dan memberikan afirmasi bahwa buku fisik akan tetap relevan meski di era digital.
“Dukungan dari pemerintah itu juga tentunya sebagai upaya meningkatkan literasi membaca masyarakat. Karena rendahnya literasi akan menjadi masalah mendasar yang memiliki dampak sangat luas bagi kemajuan bangsa,” katanya.
Ia menjelaskan, literasi yang rendah berkontribusi terhadap rendahnya produktivitas masyarakat. Ini berujung pada rendahnya pertumbuhan dan berdampak terhadap rendahnya tingkat kesejahteraan bangsa Indonesia.
“Selain itu literasi rendah juga berkontribusi secara signifikan terhadap kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan. Maka kami sangat mendukung apa yang dilakukan Subdit Kepustakaan Islam Kemenag Pusat ini, semoga upaya-upaya untuk meningkatkan tingkat literasi Indonesia bisa terwujud,” pungkasnya.
(Anty)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Rakor Kemenko PMK: Wajib Halal Oktober 2026 Tetap Sesuai Jadwal
Jakarta, Bimas Islam — Implementasi Wajib Halal Oktober 2026 dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal. Hal itu disepakati kementerian dan lembaga terkait…



