Bulukumba, Bimas Islam -- Kepala Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Sulsel, Wahyuddin Hakim menuturkan, KUA revitalisasi bukan dimaksudkan untuk gaya-gayaan, agar terlihat ada kerja dan perubahan tampilan kantor. Menurutnya, KUA revitalisasi itu lebih menitikberatkan pada peningkatan layanan.
Hal itu disampaikannya pada kegiatan Capacity Building Revitalisasi dalam Pemenuhan dan Pengelolaan Sarana Prasarana KUA, di hadapan para Kepala KUA, penghulu, dan Penyuluh Agama Islam (PAI) se-Kabupaten Bulukumba di Kantor Kemenag Bulukumba, Rabu (10/05/23).
"Revitalisasi itu bukan gaya-gayaan, supaya terlihat spesial, supaya kantornya berubah, front office-nya berubah, ada aulanya, bukan itu. Sebenarnya rohnya adalah supaya pelayanannya lebih bagus, kalau kita masuk di ruangan KUA, ada yang menyambut masyarakat dengan senyuman, itu contoh kecilnya" jelasnya.
Dikatakan Wahyuddin, pejabat fungsional dan pelaksana KUA perlu meningkatkan kecerdasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sebab, menurutnya, pelayanan yang maksimal membutuhkan kecerdasan, attitude, dan skill yang mumpuni.
Ia juga mengibaratkan tugas KUA seperti ‘sulo’ (obor - Bugis) memberi cahaya di kegelapan. Menurutnya, KUA harus berani berinovasi dan memiliki mimpi besar untuk memberi pelayanan terbaik pada masyarakat, sesuai amanat program Revitalisasi KUA.
"Sekarang ini, Menteri Agama menargetkan capaian output sasaran kinerja, termasuk peningkatan layanan kepada masyarakat, dan itu menjadi salah satu tugas pokok Kantor urusan Agama," terang Kabid Urais.
Terakhir, Wahyuddin menegaskan, peran KUA tidak hanya mencakup pelayanan, pengawasan, pencatatan, penyusunan statistik pelayanan, pengelolaan dokumen bimbingan keluarga sakinah, bimbingan kemasjidan, dan sebagainya. Menurutnya, kerja-kerja sosial seperti pencegahan stunting juga merupakan bagian dari tugas KUA.
Ba/Mr



