Bandar Lampung, Bimas Islam -- Penguatan moderasi beragama pada dasarnya menghadirkan negara sebagai rumah bersama yang adil dan ramah. Demikian disampaikan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung, Puji Raharjo saat menjadi narasumber peringatan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW Tahun 1444 H/2023 M di Lingkungan BSI (Bank Syariah Indonesia) Area Lampung, Rabu (22/2) secara virtual.
“Penguatan moderasi beragama pada dasarnya menghadirkan negara sebagai rumah bersama yang adil dan ramah bagi bangsa Indonesia, untuk menjalani kehidupan beragama yang rukun, damai, dan makmur,” ungkapnya.
Menurut Puji, cara merawat kedamaian dan keharmonian adalah dengan penguatan moderasi beragama dalam masyarakat, berbangsa dan bernegara. Ia juga menegaskan, moderasi beragama bukan moderasi agama atau modernisasi agama.
“Salah satu cara merawat kedamaian dan keharmonian antarumat beragama adalah melalui penguatan moderasi beragama di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Moderasi beragama bukanlah moderasi agama ataupun modernisasi agama,” sambungnya.
Menurut Puji, dasar pelaksanaan moderasi beragama tidak lepas dari perkembangan praktik dan pikir yang berlebihan, klaim kebenaran subyektif yang dipaksakan, serta semangat beragama yang tidak sejalan dengan kebangsaan.
“Kita dihadapkan tiga tantangan, yaitu pertama, berkembangnya cara pandang, sikap dan praktik beragama yang berlebihan (ekstrem), yang mengesampingkan martabat kemanusiaan. Kedua, berkembangnya klaim kebenaran subyektif dan pemaksaan kehendak atas tafsir agama, serta pengaruh kepentingan ekonomi dan politik berpotensi memicu konflik. Ketiga, berkembangnya semangat beragama yang tidak selaras dengan kecintaan berbangsa dalam bingkai NKRI,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Puji menjelaskan hakikat ber-Indonesia dan beragama. Moderasi beragama, menurutnya, adalah jembatan atau perekat antara komitmen keagamaan dan komitmen kebangsaan.
“Moderasi beragama merupakan perekat antara semangat beragama dan komitmen berbangsa. Di Indonesia, beragama pada hakikatnya adalah ber-Indonesia, dan ber-Indonesia pada hakikatnya adalah beragama,” terangnya.
“Moderasi beragama sesungguhnya merupakan kunci terciptanya toleransi dan kerukunan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun global,” sambungnya.
Ia berharap, Isra’ Mikraj menjadi momentum untuk tumbuh menjadi agen moderasi beragama yang merekatkan hubungan persaudaraan sesama anak bangsa dan mengembangkan paham wasathiyah yang menghadirkan perdamaian, toleran, dan memberikan kesejukan.
"Saya mengajak kita semua untuk berkarakter Islam wasathiyah, menampilkan wajah Islam yang damai, toleran dan senantiasa memberikan kesejukan. Sudah sepatutnya kita semua menjadi agen moderasi beragama dan pembawa kedamaian," pungkasnya.
Ba/Mr



