Mataram, bimasislam – Kasubdit Bina Paham Keagamaan Islam dan Penanganan Konflik, Direktorat Urais Binsyar, Ditjen Bimas Islam, Siti Nur Azizah menekankan pentingnya riset keagamaan sebagai pijakan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dalam melakukan bina moderasi Islam demi terciptanya harmoni di masyarakat. Hal ini dia sampaikan saat memaparkan materi dengan tema “Peran dan Kontribusi PTKIN dalam Bina Harmoni di tengah Masyarakat” pada Studium General yang bertempat di Auditorium Utama Kampus UIN Mataram, Rabu (14/02).
Menurut Azizah perlu dibangun hubungan yang sinergis, antara beberapa fungsi yang ada di dalam tridarma perguruan tinggi tersebut. Hubungan simbiosis ini dinilai sangat penting oleh Azizah, karena PTKIN bersama peran risetnya memiliki kemampuan mendiagnosa suatu akar permasalahan di masyarakat, dan dapat menyumbangkan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk bagi Kementerian Agama, sehingga kebijakan yang akan diterapkan dapat tepat sasaran
“Untuk melihat sejauh mana kultur moderasi Islam dapat memengaruhi suasana keharmonisan di masyarakat, seperti yang saat ini sedang giat dikampanyekan gerakannya oleh Pemerintah, maka PTKIN perlu memaksimalkan peranannya, baik dalam studi-studi kepustakaan maupun berupa riset empirik keagamaan”, ungkap Azizah.
Selain menekankan pentingnya peran riset sebagai basis penting dalam menentukan kebijakan, Azizah turut pula menyajikan beberapa data faktual terkait peluang dan tantangan yang saat ini dihadapi masyarakat Islam.
Terkait radikalisme di masyarakat yang kini menjadi tantangan, Azizah memulainya dengan menunjukkan angka15,9% responden yang menyatakan dukungan atas tindakan bom bunuh diri Amrozi pada 2004 (PPIM UIN Jakarta 2004), kemudian 30,2 % sikap radikalisme yang didasarkan pada kurangnya pemahaman yang benar terhadap agama (litbang kompas 2015), hingga angka positif 75,47% Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) di Indonesia (Litbang Kemenag:2016) yang dapat menjadi peluang dalam memupuk keharmonisan.
Lebih lanjut, Azizah membangun sikap optimisme dan partisipatif yang ditujukan kepada ratusan peserta yaitu dengan menyampaikan empat sikap keberagamaan yang selama ini menjadi ruh pembinaan Ditjen Bimas Islam kepada masyarakat, antara lain ruh al-din (spirit beragama), ruh al-wathaniyah(spirit nasionalisme), ruh al-Ashabiyah (spirit kebangsaan) dan ruh al-basyariyah (spirit kemanusiaan).
Turut hadir dalam Studium General yang diinisiasi oleh Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram ini, diantaranya para civitas akademika, dosen, unsur dekanat dan rektorat, penyuluh agama dan para penggiat studi keislaman provinsi Nusa Tenggara Barat.
(Syafaat)
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



