Selama tahun 2024, dua ekor sapi telah berhasil dijual, menghasilkan keuntungan sebesar Rp20 juta. Keuntungan ini kemudian dibagi antara BAZNAS dan pengelola Kampung Zakat sebagai bentuk penguatan ekonomi umat.
Tak hanya peternakan, Kampung Zakat juga mengangkat potensi lokal lewat produk kain ikat tradisional. Harga kain ikat bervariasi antara Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Tahun ini, satu kain ikat berhasil terjual dengan harga Rp1.450.000. Hal ini menjadi sinyal positif bahwa warisan budaya lokal memiliki daya saing di pasar yang lebih luas.
Sementara itu, produk keripik singkong yang mulai diproduksi sejak awal Juni juga menunjukkan geliat pertumbuhan. Dalam satu bulan, usaha ini mampu meraih pendapatan antara Rp100.000 hingga Rp150.000. Hingga pertengahan bulan ini, sekitar 30 bungkus keripik telah terjual.
Kepala KUA Amanuban Timur, Suherman Naitboho, mengatakan, zakat bisa menjadi motor penggerak ekonomi umat. “Kampung Zakat ini bukan hanya tentang kegiatan keagamaan, tapi juga bagaimana zakat bisa menjadi motor penggerak ekonomi umat. Kita ingin masyarakat mandiri, punya penghasilan, dan sejahtera,” ujar Suherman Naitboho saat ditemui pada Senin (26/5/2025).
Ia menambahkan, kolaborasi antara BAZNAS, pemerintah desa, dan masyarakat merupakan kunci keberhasilan program ini. Ke depan, diharapkan akan lebih banyak produk lokal yang dikembangkan dan diberdayakan untuk peningkatan kesejahteraan bersama.
Msk/Mr



