Jakarta, Bimas Islam-- Kementerian Agama (Kemenag) menegaskan pentingnya pendidikan terstruktur dan dukungan negara dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) amil zakat. Hal itu disampaikan Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Kemenag, Waryono Abdul Ghafur, dalam audiensi dengan Syarikat Amil Indonesia (SYAMIL) di Jakarta, Senin (26/8/2024).
Waryono mengungkapkan, pendidikan SDM amil zakat yang terstruktur sangat diperlukan untuk mendukung sinergi antara Kemenag dan lembaga zakat. Menurutnya, jumlah amil zakat saat ini masih jauh dari memadai jika dibandingkan dengan populasi Muslim di Indonesia.
"Pada 2023, terdapat 12.225 amil di Indonesia. Namun, jumlah ini masih sangat timpang dibandingkan dengan populasi Muslim yang mencapai 238 juta jiwa. Selain itu, jumlah muzaki baru mencapai 92,6 juta jiwa, sementara total mustahik mencapai 123 juta jiwa," ungkap Waryono.
Ia juga menekankan pentingnya pemetaan amil secara menyeluruh sebelum memulai kolaborasi yang lebih luas. "Ketidakseimbangan ini mencerminkan tantangan besar dalam kualitas dan kuantitas amil. Ini adalah tantangan bersama yang harus kita hadapi dengan serius," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Akreditasi dan Audit Lembaga Zakat, Ahmad Syauqi, menyoroti tantangan biaya sertifikasi amil yang masih tinggi. Meskipun telah ada Perbaznas No. 2 Tahun 2018 tentang sertifikasi amil zakat, peningkatan kompetensi amil harus menjadi prioritas utama.
Syauqi menambahkan, sertifikasi amil seharusnya tidak hanya mengukur kompetensi, tetapi juga memberi dampak signifikan bagi lembaga zakat. "Pentingnya advokasi kebijakan yang mendukung pengembangan SDM amil harus menjadi fokus utama," ujarnya.
Fn/Mr



