Jakarta, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) menggelar upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia di Halaman Kantor Pusat Kemenag RI, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu (17/8/2025) pada pukul 07.00 WIB. Bertindak sebagai pembina upacara, Menteri Agama Nasaruddin Umar.
Ribuan pegawai hadir dengan mengenakan batik Nusantara dan pakaian adat daerah. Paduan busana tersebut dimaknai sebagai simbol keberagaman sekaligus pesan persatuan bangsa. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, turut hadir dengan baju adat Jawa sebagai pengingat bahwa kemerdekaan lahir dari persatuan dalam perbedaan.
Abu mengungkapkan pentingnya mengisi kemerdekaan dengan menjaga kerukunan dan kelestarian bumi. “Kemenag mengusung tema Rukun di Langit dan di Bumi, sejalan dengan gagasan ekoteologi. Manusia tidak hanya harus rukun dengan sesama, tetapi juga dengan alam semesta yang menopang kehidupan,” ujarnya saat ditemui usai upacara.
Ia menilai ekoteologi menjadi landasan menghadapi krisis global seperti perubahan iklim, bencana alam, dan kerusakan lingkungan. “Indonesia merdeka bukan hanya untuk membangun manusia yang sejahtera, tetapi juga menjaga bumi tetap lestari. Ini amanah yang tidak boleh kita abaikan,” tegasnya.
Abu menjelaskan bahwa Bimas Islam telah menginisiasi sejumlah program ekoteologi. Salah satu program utama adalah Eco-Masjid. Masjid kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan ekoteologi.
“Masjid digerakkan untuk mengelola sampah, menggunakan energi terbarukan, hingga melakukan penghijauan,” ungkapnya.
Tidak berhenti di masjid, Bimas Islam juga mengembangkan Green KUA, menjadi model pelayanan ramah lingkungan. Upaya ini diwujudkan melalui integrasi penanaman pohon dalam kegiatan bimbingan pranikah, penyuluhan agama, dan aktivitas keagamaan lainnya.
Program lain yaitu Wakaf Berbasis Lingkungan atau Green Waqf. Melalui inisiatif ini, wakaf tidak hanya dalam bentuk tanah dan bangunan, tetapi juga hutan, sumur, hingga pohon produktif. “Green Waqf bukan hanya investasi akhirat, tapi juga solusi ekologis. Wakaf hutan misalnya, bisa menjaga ekosistem sekaligus menahan laju perubahan iklim,” katanya.
Serangkaian program itu merupakan upaya Bimas Islam menempatkan ekoteologi sebagai pilar dalam layanan keagamaan. “Islam mengajarkan kita untuk tidak merusak bumi setelah Allah menciptakannya dengan seimbang. Karena itu, ekoteologi menjadi bagian integral dari pengamalan ajaran agama sekaligus nilai kebangsaan,” imbuhnya.
Ia juga menekankan peran generasi muda dalam mengisi kemerdekaan dengan kepedulian terhadap lingkungan. “Anak-anak muda bisa menunjukkan cinta tanah air bukan hanya lewat prestasi, tetapi juga dengan aksi nyata menjaga kelestarian alam. Itu wujud pengisian kemerdekaan yang relevan dengan tantangan zaman,” ucap Abu.
Mengakhiri pesannya, ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan HUT ke-80 RI sebagai momentum memperkuat komitmen ekoteologi.
“Kalau kita rukun di langit dan di bumi, bangsa ini akan tetap tegak, kuat, dan membawa rahmat bagi semua makhluk,” tandasnya.
Wcp/Mr



