Jakarta, Bimas Islam -- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Kementerian Agama, Waryono Abdul Ghafur mengajak Lembaga Amil Zakat (LAZ) Rizki dan Azka bekerja sama dengan Kantor Urusan Agama (KUA) untuk melakukan asesmen mustahik di perkotaan. Hal itu bertujuan agar program zakat tersalurkan tepat sasaran sesuai kebutuhan penerima manfaat.
“Kita mendorong LAZ, termasuk LAZ Rizki dan Azka, menjalin kerja sama dengan KUA dalam asesmen mustahik, terutama di daerah perkotaan,” ujar Waryono di Jakarta, Selasa (22/10/2024).
Asesmen terhadap calon-calon mustahik dapat dimulai dari pengelompokan calon mustahik, verifikasi data dan lapangan, lalu dilanjutkan dengan penilaian status ekonomi yang menggambarkan tingkat kesejahteraannya.
LAZ Rizki yang beroperasi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, serta LAZ Azka yang bernaung di bawah Yayasan Masjid Jami' Al Baitul Amien Jember, diharapkan dapat memperkuat verifikasi data mustahik melalui kolaborasi ini.
Waryono menjelaskan, KUA memiliki jaringan yang luas di masyarakat dengan perangkat penghulu dan penyuluh yang dapat dimanfaatkan untuk asesmen. "Kerja sama ini diharapkan dapat menjadi solusi optimalisasi distribusi zakat yang lebih adil dan merata," jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya integritas dalam mengelola dana zakat. “Amil zakat harus menjaga komitmen dan kepercayaan masyarakat, karena dana zakat sangat sensitif,” katanya.
Pengelolaan zakat dan wakaf yang baik, menurut Waryono, harus disertai publikasi laporan yang transparan. "Laporan publikasi harus dilakukan secara masif di era digital ini," tambahnya.
Sebelumnya, pada 15 Oktober 2024, Kemenag menggelar pertemuan dengan LAZ Rizki dan LAZ Azka di Jember, Jawa Timur, yang membahas pengelolaan zakat dan wakaf serta sinergi untuk penyaluran zakat yang lebih tepat sasaran. Dalam pertemuan itu, Waryono memaparkan berbagai program inovatif Kementerian Agama, seperti Kampung Zakat, KUA Pemberdayaan Ekonomi Umat, dan Kota Wakaf. Program Kampung Zakat, menurutnya, tidak hanya untuk daerah pedesaan, tetapi juga bisa di perkotaan yang memiliki potensi mustahik.
Zam Zam, perwakilan LAZ Rizki menyampaikan, lembaganya sudah memiliki program-program pemberdayaan seperti BAKRE (Balai Kreatif), Tasya (Tanaman Sayur Keluarga), dan Lamga (Kolam Gizi Keluarga). Namun, ia menyoroti bahwa 83% mustahik masih menggunakan dana secara konsumtif, sehingga pendampingan perlu diperkuat.
Ba/Mr



