Semarang, Bimas Islam – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Dirjen Bimas Islam) Kementerian Agama, Abu Rokhmad, menekankan pentingnya peran penyuluh agama sebagai sahabat umat dalam urusan keagamaan. Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Pembinaan Evaluasi Kinerja dan Serap Aspirasi Penyuluh Agama se-Jawa Tengah yang digelar di Kota Semarang, Kamis (17/4/2025).
Abu menjelaskan, konsep “sahabat” dalam konteks keagamaan tidak sekadar berarti orang yang pernah bertemu, sebagaimana disebutkan dalam hadis. Lebih dari itu, sahabat adalah sosok yang hadir, mendampingi, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam persoalan keagamaan.
“Orang yang dekat dengan kita, sahabat dalam beragama, artinya kebutuhan umat dalam konteks agama itu kita harus menjadi sahabat,” ujar Abu Rokhmad.
Ia mengajak seluruh Penyuluh Agama Islam untuk menjadi referensi terpercaya masyarakat dalam menjawab persoalan keagamaan. Menurutnya, penyuluh tidak boleh bersikap pasif, tetapi harus aktif memberi pemahaman yang benar sesuai ajaran agama.
“Kalau ada pertanyaan masyarakat soal keagamaan, seperti salat jenazah atau kapan hari raya, maka penyuluh harus bisa menjawab dengan benar dan sesuai ketentuan. Jangan malah bingung atau memberikan jawaban yang tidak pasti,” tegasnya.
Abu mencontohkan pentingnya penyuluh memahami mekanisme penetapan Hari Raya Idulfitri. Ia mengingatkan bahwa jawaban ideal harus merujuk pada keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat, bukan berdasarkan perkiraan pribadi.
“Kalau ditanya kapan lebaran, jawablah dengan mencerminkan sahabat Bimas Islam: kita tunggu keputusan pemerintah melalui sidang isbat. Jangan asal menyebut tanggal,” katanya.
Ia juga mengungkapkan pentingnya pemahaman dasar tentang perbedaan antara penanggalan kamariah (Hijriah) dan syamsiah (Masehi). Penyuluh diharapkan dapat menjelaskan hal tersebut kepada masyarakat dengan bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti.
“Pengetahuan ini bagian dari profesionalitas sebagai sahabat keagamaan. Kita harus bisa menjelaskan dengan baik, bukan malah menambah bingung,” ucap Abu.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penyuluh memiliki peran strategis dalam membentuk perilaku masyarakat melalui pendekatan nilai-nilai agama. Penyuluh diharapkan mampu memotivasi, mendidik, dan mengedukasi umat secara konsisten.
“Gunakan bahasa agama untuk mengubah perilaku, memahamkan orang, mendidik, dan memfasilitasi. Itulah peran sahabat yang sebenarnya,” tegasnya.
Fn/Mr



