Jakarta, Bimas Islam -- Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) meluncurkan Program Beasiswa Kemitraan Pendidikan yang menyasar masyarakat di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), penyandang disabilitas, dan komunitas adat. Peluncuran program yang digelar secara daring melalui Zoom pada Jumat (8/11/2024) ini disambut positif oleh Kementerian Agama.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Waryono Abdul Ghafur, mengapresiasi langkah BAZNAS yang dinilai sangat relevan dengan kondisi masyarakat. “Zakat itu mirip demokrasi, dari masyarakat untuk masyarakat dan kembali kepada masyarakat,” ujarnya.
Waryono memaparkan data dari Bappenas tahun 2022 yang menunjukkan adanya 22 juta penyandang disabilitas di Indonesia, hampir menyamai angka penduduk miskin yang mencapai 25,9 juta. “Akses pendidikan bagi anak-anak difabel terbatas, hanya 29,6% yang mencapai tingkat SD dan 5,1% melanjutkan ke perguruan tinggi. Kami berharap program BAZNAS ini dapat memperluas akses pendidikan bagi mereka,” ungkap Waryono.
Selain itu, ia menyoroti kondisi masyarakat adat yang masih terisolasi, seperti suku Anak Dalam, yang membutuhkan perhatian lebih dalam akses pendidikan. “Pendidikan kita sudah tertinggal dibandingkan negara tetangga, seperti Vietnam. Kita butuh upaya bersama antara masyarakat dan pemerintah untuk memperbaiki ini,” tegasnya.
Program beasiswa BAZNAS juga dirancang untuk berkoordinasi dengan Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan, dan Kementerian Agama demi mencegah tumpang tindih. “Kerja sama lintas kementerian sangat penting agar program ini berjalan efektif,” kata Waryono.
Ia mengungkapkan pentingnya pendidikan relevan untuk anak-anak difabel serta mengusulkan adanya diskusi lebih lanjut dengan pihak terkait. “Kita perlu membicarakan pendidikan yang tepat bagi mereka, sesuai kemampuan dan masa depan mereka,” ujarnya.
Waryono juga mengusulkan agar program beasiswa BAZNAS bersinergi dengan perguruan tinggi, seperti Yayasan Peduli Kasih di Sidoarjo yang berfokus pada disabilitas, dan mengintegrasikan inisiatif seperti Desa Kreatif Inklusif dengan program BAZNAS lainnya, seperti Kampung Zakat dan Desa Berdaya. “Banyak mahasiswa yang belum mengetahui program beasiswa ini. Kerja sama dengan perguruan tinggi diperlukan agar informasi ini tersebar luas,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan masyarakat di daerah rawan bencana, terutama anak-anak difabel, dalam menghadapi situasi darurat. “Selain mengembangkan potensi wisata, literasi kebencanaan bagi anak-anak difabel juga perlu ditingkatkan agar mereka siap menghadapi bencana. Kita harus bergerak bersama untuk pendidikan inklusif dan berkualitas bagi semua,” tandasnya.
Fn/Mr



