Semarang, Bimas Islam -- Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kementerian Agama (Kemenag) melatih 34 takmir masjid dari Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk memperkuat fungsi masjid sebagai pusat ekonomi dan layanan sosial.
Kegiatan ini merupakan implementasi program Masjid Berdaya Berdampak (MADADA) berkolaborasi dengan BAZNAS Microfinance Masjid (BMM). Bimtek angkatan ketiga ini membekali takmir dengan keterampilan manajemen keuangan, perencanaan program ekonomi masjid, dan akses pembiayaan mikro syariah.
Dirjen Bimas Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan, pihaknya fokus pada penguatan kapasitas takmir agar masjid kembali menjadi pusat aktivitas umat. “Masjid dibangun oleh umat untuk umat. Setelah masyarakat membangun dengan swadaya, pemerintah hadir agar masjid berdaya dan berdampak,” ujarnya dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pendamping BMM-MADADA di Semarang, Jumat (26/9/2025).
Abu menyebut, Indonesia memiliki sekitar 750 ribu masjid dan musala yang dibangun melalui skema swadaya masyarakat. “Kalau masjid seperti madrasah yang dibiayai negara, kita tidak akan punya sebanyak itu. Karena itu, Kemenag memfokuskan dukungan pada pengelolanya,” tambahnya.
Menurutnya, masjid sejak dulu berfungsi sebagai pusat pendidikan, peradilan agama, hingga kajian ulama. “Dulu Pengadilan Agama disebut Pengadilan Surambi dan berlangsung di serambi masjid. Pendidikan madrasah juga bermula dari masjid. Kita ingin fungsi itu hidup kembali,” ungkapnya.
Selain penguatan ekonomi, Kemenag telah melakukan optimalisasi fungsi layanan sosial melalui program Masjid Ramah Pemudik pada 2025. Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, menjelaskan program ini menjadikan masjid di jalur provinsi hingga jalur desa sebagai tempat singgah nyaman bagi pemudik.
“Masjid Ramah Pemudik adalah layanan nyata. Masjid di Semarang, Demak, Kudus, Pekalongan, dan daerah lainnya disiapkan fasilitas dasar untuk pemudik, mulai ruang istirahat hingga toilet bersih,” ucap Arsad.
Ia menambahkan, masjid dapat berperan ganda sebagai tempat ibadah dan pusat pelayanan sosial. Karenanya, masjid lebih dekat dengan masyarakat dan mampu merespons kebutuhan mereka di momentum tertentu seperti arus mudik Lebaran.
“Kita ingin memastikan masjid tidak hanya berdiri megah, tetapi juga hidup dengan program yang bermanfaat, dan memberi dampak yang besar bagi masyarakat,” pungkas Arsad.
Wcp/Mr



