Garut, Bimas Islam– Direktorat Penerangan Agama Islam, Ditjen Bimas Islam, Kementerian Agama terus memperkuat kapasitas para penceramah agar mampu menghadirkan dakwah yang menyejukkan dan mempererat persaudaraan kebangsaan. Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Bimbingan Teknis Dakwah Khusus Penguatan Wawasan Keagamaan dan Kebangsaan bagi Penceramah Agama Islam se-Kabupaten Garut yang digelar di Aula Kantor Kemenag Garut, Rabu (12/11/2025).
Sebanyak 100 penceramah dari berbagai unsur keagamaan, seperti ormas Islam, majelis taklim, penyuluh agama, LPTQ, ICMI, PUI, LDK PDM, PCNU, Majelis Tarjih Muhammadiyah, Fatayat, dan Persis, mengikuti kegiatan ini. Mereka mendapat penguatan pemahaman keagamaan dan kebangsaan untuk memperkuat dakwah Islam rahmatan lil 'alamin yang moderat dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Plt. Direktur Penerangan Agama Islam, Ahmad Zayadi, mengungkapkan bahwa dakwah masa kini tidak cukup hanya disampaikan di masjid atau majelis taklim. “Penceramah dituntut menjadi figur publik yang memahami realitas sosial dan mampu berdakwah dengan pendekatan yang ramah, dialogis, dan kontekstual,” ujarnya. Menurutnya, dakwah moderat merupakan kebutuhan strategis bangsa dalam menjaga harmoni sosial dan memperkuat semangat kebangsaan.
Zayadi menambahkan, tantangan dakwah kini semakin kompleks dengan maraknya disinformasi dan narasi ekstrem di ruang digital.
“Dakwah harus disampaikan dengan hikmah dan pemahaman yang mendalam agar tidak mudah dipelintir oleh pihak-pihak yang menebar kebencian atau memecah persatuan,” jelasnya.
Karena itu, lanjutnya, literasi digital dan wawasan kebangsaan menjadi dua kompetensi penting yang harus dimiliki setiap penceramah.
Ia menegaskan, dakwah yang ramah bukan berarti lembek terhadap kesalahan, tetapi mengedepankan kebijaksanaan dan kasih sayang dalam menyampaikan kebenaran.
“Dai dan penceramah adalah wajah Islam yang dilihat masyarakat. Karena itu, pesan keagamaan harus menumbuhkan cinta tanah air, menghormati perbedaan, dan meneguhkan nilai kemanusiaan universal,” katanya.
Zayadi berharap, para penceramah di Garut dapat menjadi pelopor dakwah yang mencerdaskan dan menyejukkan. "Kemenag berkomitmen melahirkan penceramah yang bukan hanya fasih berdakwah, tetapi juga bijak bermedia, kokoh dalam wawasan kebangsaan, dan teguh dalam prinsip moderasi beragama,” tuturnya.
Sementara itu, Kasubdit Dakwah dan Hari Besar Islam, Amirullah, menjelaskan bahwa Bimtek ini menjadi ruang pembelajaran kolaboratif bagi para penceramah dalam merespons tantangan dakwah kekinian.
“Penceramah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk memanfaatkan platform digital seperti YouTube, TikTok, dan media sosial lainnya untuk menyebarkan pesan kebaikan,” ujarnya.
Amirullah mengulas tiga kelompok ekstrem yang masih menjadi tantangan dakwah Islam moderat. “Pertama, kelompok yang merasa paling benar dan menyesatkan pihak lain. Kedua, kelompok yang beragama tapi menolak negara. Ketiga, kelompok yang bertakbir tapi menyebarkan kebencian dan kekerasan,” terangnya.
Menurutnya, dakwah yang benar adalah yang memperkuat keimanan sekaligus meneguhkan kecintaan kepada bangsa. "Menjaga persatuan NKRI bukan hanya tugas politik, tapi bagian dari tanggung jawab keagamaan. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi sosial dan spiritual bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Ketua MUI Kabupaten Garut, Kiai Abdul Mujib, menilai Bimtek ini sangat relevan dengan kondisi masyarakat yang masih dihadapkan pada infiltrasi paham keagamaan eksklusif.
“Kelompok ekstrem yang gemar mengkafirkan sesama masih ada. Saya sendiri pernah berhadapan langsung dengan mereka,” ungkapnya.
Menurut Kiai Mujib, sebagian kelompok tersebut masih menilai negara ini thaghut dan menganggap Pancasila sebagai ideologi kafir, sehingga memicu permusuhan di tengah masyarakat. “Ini jelas kesalahan dalam memahami ajaran Islam. Padahal Islam datang untuk menebar rahmat, bukan kebencian,” tegasnya.
Ia mengajak para penceramah menjadi penjaga moral dan penuntun umat dalam memahami agama secara benar. “Kita harus mengawal umat agar taat beragama sekaligus taat bernegara. Dakwah kita harus meneguhkan Islam rahmatan lil alamin yang menjaga persaudaraan, kedamaian, dan keutuhan NKRI,” pungkasnya.
An/Mr



