Jakarta, Bimas Islam — Direktorat Penerangan Agama Islam menggelar Pembibitan Calon Dai Muda Nasional Tahun 2025. Kegiatan ini dibuka pada Senin malam (4/8/2025), di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, dan akan berlangsung hingga Jumat (8/8).
Sebanyak 200 peserta berusia maksimal 25 tahun mengikuti program ini. Mereka berasal dari seluruh provinsi di Indonesia dan dipilih dari 634 pendaftar. Selama pelatihan, peserta dibekali materi dakwah, kepemimpinan, komunikasi digital, serta wawasan ekonomi umat.
Kasubdit Dakwah dan Hari Besar Islam, Amirullah, menekankan pentingnya pembinaan dai muda yang relevan dengan tantangan zaman. “Sekarang ini, orang lebih takut kehilangan sinyal daripada kehilangan arah hidup. Artinya, dunia digital telah menjadi pusat kehidupan kita,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat Indonesia rata-rata menghabiskan 8 hingga 12 jam per hari di depan layar gawai. Algoritma digital pun turut membentuk pola pikir dan perilaku masyarakat. “Setiap hari kita terkoneksi dengan media sosial. Dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita terpapar informasi. Kita harus hadir di ruang-ruang itu, membawa pesan keislaman yang damai, moderat, dan membangun,” tegasnya.
Amirullah menyampaikan bahwa pembibitan ini tidak hanya bertujuan mencetak penceramah, tetapi juga membentuk kader dai yang ramah, adaptif, dan kontekstual. "Kita ingin melahirkan pedagang nilai agama, bukan provokator. Dai yang menjual nilai, bukan menjual amarah,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa masa depan bangsa sangat dipengaruhi arah keberagamaan generasi muda. Karena itu, penting bagi para dai muda tumbuh dalam pemahaman Islam Ahlussunnah wal Jamaah yang menjunjung tinggi toleransi dan keseimbangan.
"Kalau karakter keislaman generasi muda terjebak dalam narasi ekstrem, maka fondasi kebangsaan bisa terancam,” ungkapnya.
Dalam pelatihan ini, peserta juga dibekali wawasan kewirausahaan untuk mendorong kemandirian ekonomi umat. “Kita ingin para dai muda tidak hanya bicara dari mimbar, tapi juga mampu membangun kemandirian umat melalui penguatan ekonomi,” ujarnya.
Usai pelatihan, seluruh peserta akan diterjunkan untuk praktik dakwah di pesantren dan lembaga pendidikan Islam di berbagai daerah. Penempatan ini bertujuan menguji implementasi rencana aksi serta mengasah keterampilan dakwah langsung di masyarakat.
Amirullah berharap program ini dapat melahirkan generasi dai yang mampu menjawab tantangan zaman secara kreatif, kolaboratif, dan moderat.“Kita butuh dai yang bisa bicara di panggung, di podcast, di TikTok, dan di komunitas. Mereka harus menjadi wajah Islam Indonesia yang inklusif dan membumi,” pungkasnya.
An/Mr



