Jakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) mendorong masjid menjadi lokus strategis gerakan ekoteologi, tidak hanya sebatas wacana, tetapi berujung pada aksi nyata, termasuk dalam pengelolaan sampah. Hal itu disampaikan Kasubdit Kemasjidan, Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Ditjen Bimas Islam, Akmal Salim Ruhana, saat membuka Webinar Eco-theology Movement in Action bertema “Jamaah Masjid Mengelola Sampah Merawat Lingkungan”, Rabu (13/8/2025).
Akmal menjelaskan, ekoteologi merupakan salah satu dari Asta Protas atau delapan program prioritas Kementerian Agama yang diterjemahkan dari Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden. Program ini menegaskan peran agama dan umat beragama dalam merespons isu lingkungan, di tengah kekhawatiran terhadap perubahan iklim, pemanasan global, dan kerusakan alam.
“Kita ingin memastikan ekoteologi tidak berhenti pada diskusi atau seminar, tetapi hadir dalam bentuk aksi nyata yang kontekstual di lingkungan kita masing-masing,” tegas Akmal.
Menurutnya, masjid memiliki posisi strategis untuk menggerakkan kesadaran dan aksi pelestarian lingkungan karena menjadi pusat berkumpulnya jemaah dalam jumlah besar.
Kemenag, lanjutnya, telah menggelar berbagai forum nasional dan internasional bertema ekoteologi, termasuk International Symposium on Innovative Mosque di Solo yang membahas Eco-Friendly Mosque, Climate Change, and Future Generation, serta International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025. Selain itu, program penanaman satu juta pohon matoa dan gerakan bawa benih pohon bagi pasangan yang menikah di KUA juga telah dilakukan.
Namun, Akmal menilai perlu inovasi lanjutan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satunya adalah pengelolaan sampah di lingkungan masjid. Ia mengungkapkan, acara-acara besar di masjid sering meninggalkan jejak sampah plastik, kemasan air minum, hingga makanan yang tidak habis (food waste).
“Indonesia menurut laporan The Economist and Barilla Center (2017) masuk peringkat dua dunia dalam food loss, sekitar 300 kilogram per orang per tahun. Banyak yang mengambil makanan tapi tidak dihabiskan. Ini bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi juga etika dan kesadaran,” ujarnya.
Akmal menyebut, masalah sampah dan food waste dapat menjadi pintu masuk gerakan ekoteologi di masjid. Praktik pengelolaan sampah yang baik di masjid akan berdampak ke rumah, majelis taklim, dan sekolah, sekaligus mengajarkan nilai agama seperti An-Nadhafatu Minal Iman (kebersihan sebagian dari iman).
Beberapa masjid sudah memulai langkah ini. Ia mencontohkan Masjid Al-Ilham di Pati yang mampu mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi, serta inisiatif Bank Sampah Digital yang memaksimalkan potensi ekonomi umat berbasis masjid. “Cerita baik seperti ini harus menjalar, dari satu tempat ke tiga tempat, dan seterusnya,” kata Akmal.
Menurutnya, masjid yang dikelola dengan prinsip ramah lingkungan tidak hanya menjaga kebersihan dan kenyamanan jamaah, tetapi juga menjadi model pemberdayaan umat. Kemenag pun siap memberikan stimulus bagi masjid yang menerapkan konsep ramah lingkungan dan ramah anak.
Akmal berharap, forum seperti webinar ini menjadi titik awal replikasi praktik baik di berbagai daerah. “Kita ingin diskursus ini landing dalam bentuk aksi: di masjid saya akan melakukan ini, ini, dan ini,” ujarnya.
Ia mengajak takmir masjid, penyuluh agama, dan jamaah untuk terus berinovasi mencari solusi terhadap persoalan lingkungan di sekitar. Menurutnya, setiap langkah kecil seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik, atau memanfaatkan sisa makanan dapat membawa dampak besar jika dilakukan secara kolektif.
“Semoga cerita dari Pati dan Serang bisa menginspirasi banyak masjid lain untuk memulai gerakan ini,” pungkasnya.
An/Mr



