Jakarta, Bimas Islam-- Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Kemenag, Waryono Abdul Ghafur mendorong pengelolaan dana zakat dan wakaf untuk memperkuat ketahanan pangan. Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Kongres ke-3 Jaringan Bank Pangan Indonesia bertema 'Bank Pangan Menghantarkan Indonesia Merdeka 100%' yang digelar Foodbank of Indonesia Network (FOIN) di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (16/8/2024).
"Kita terus mendorong pengelolaan dana zakat dan wakaf untuk mendukung program ketahanan pangan di Indonesia," ujarnya.
Terkait itu, Waryono menekankan pentingnya penguatan kolaborasi antara Bank Pangan Indonesia dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Menurutnya, kolaborasi akan mempercepat tercapainya ketahanan pangan nasional.
"Melalui komunikasi yang lebih intensif antara BAZNAS, LAZ, dan Bank Pangan Indonesia, kita harapkan dapat mempercepat realisasi program-program ketahanan pangan di berbagai daerah," ungkapnya.
Tidak hanya itu, Waryono juga mendorong BAZNAS dan LAZ memperbanyak dana zakat untuk mendukung program-program berbasis kebutuhan mustahik. "Kita perlu memastikan bahwa dana zakat dan wakaf dapat mendukung ketahanan pangan, terutama melalui program-program yang berbasis kebutuhan mustahik sesuai dengan regulasi zakat yang ada," ujar Waryono.
Waryono mengatakan, pihaknya bersama BAZNAS, LAZ, dan stakeholderlainnya telah menjalankan program Kampung Zakat, yang menurutnya, merupakan bagian dari upaya penguatan ketahanan pangan di tingkat desa. Waryono mengatakan, program Kampung Zakat menjadi jembatan dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, serta memastikan terpenuhinya kebutuhan pangan di daerah-daerah terpencil.
"Program Kampung Zakat yang telah berjalan merupakan salah satu upaya kita dalam memperkuat ketahanan pangan mustahik di pedesaan," tegasnya.
Waryono mengingatkan, masih terdapat potensi ancaman terhadap ketahanan pangan di level keluarga. Menurutnya, perceraian bisa berujung pada pelemahan perekonomian keluarga dan pelemahan ketahanan pangan keluarga.
"Data (Badan Pusat Statistik) menunjukkan, sekitar 400 ribuan pasangan bercerai dari 2 juta pernikahan setiap tahunnya. Hal itu bisa berdampak buruk terhadap ketahanan pangan dan tumbuh kembang gizi anak," jelasnya.
Kegiatan Kongres ke-3 Bank Pangan Indonesia itu diisi dengan berbagai kegiatan seperti Rembug Pangan Indonesia (RPI), Pasar Rakyat Mustikarasa (PRM) yang menampilkan produk UMKM berbasis pangan lokal dan rempah asli Indonesia, dan Racik Mustikarasa untuk mendemonstrasi cara memasak pangan yang baik, sehingga dapat memperkaya kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemanfaatan pangan lokal dalam memerangi kelaparan, terutama pada anak-anak.
Ba/Mr



