Kamaruddin menegaskan, masjid harus menjadi sumber kesejukan, ketenangan, dan kebahagiaan bagi seluruh umat. Ia menekankan, kualitas beragama yang sejati tercapai ketika umat mampu memberi dampak positif kepada orang lain.
"Beragama yang paling berkualitas adalah ketika kita mampu memberi dampak kepada orang lain. Ini adalah hakikat dari kekhalifahan kita," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, masjid di Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat pertemuan intensif bagi umat Islam. Masjid di Indonesia difungsikan 24 jam untuk literasi keagamaan, diskusi, majelis taklim, dan berbagai aktivitas produktif lainnya yang secara langsung meningkatkan kualitas kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kamaruddin mengingatkan, masjid harus mampu mengelola keragaman dan potensi perbedaan di masyarakat, terutama Indonesia sebagai bangsa yang multikultural. "Di masjid, kita harus menumbuhkan dan menyebarkan paham-paham yang menyatukan, mencerahkan, mendamaikan, dan menyejukkan," ucapnya.
Selain itu, Kamaruddin berharap, masjid dapat menjadi tempat yang menyenangkan bagi umat Islam, serta memancarkan nilai-nilai agama yang penuh kasih, pengampunan, dan rahmat kepada masyarakat luas. "Beragama itu harus menyenangkan. Masjid tidak boleh menjadi sumber nilai yang justru sebaliknya. Masjid harus menjadi sumber kesejukan, ketenangan, dan kebahagiaan," tegasnya.
Sebagai penutup, Kamaruddin menekankan pentingnya masjid untuk memberi dampak yang luas, tidak hanya dalam lingkup ibadah, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Salah satu inisiatif Kemenag adalah mendorong gaya hidup masyarakat yang berorientasi pada wakaf.
Memakmurkan masjid, menurutnya, bukan hanya tanggung jawab pengurus masjid, tetapi juga seluruh umat Islam, agar masjid tetap menjadi sumber kebaikan bagi komunitas, keluarga, dan masyarakat luas.
Fn/Mr



