Solo, Bimas Islam -- Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng 54 penulis paper yang terdiri dari akademisi (dalam dan luar negeri), guru, aktivis LSM lingkungan, dan takmir untuk mengembangkan masjid ramah lingkungan. 54 orang tersebut hadir secara daring dan luring dalam acara International Symposium on Innovative Masjid (ISIM) 2024 bertajuk “Eco-friendly Mosque, Climate Change, and Future Generation”, di Solo, Rabu (2/10/2024).
Sebanyak 54 paper dari peserta mengulas praktik masjid ramah lingkungan serta peran strategis rumah ibadah dalam mendukung ekosistem hijau. Hasil kajian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam mengembangkan masjid ramah lingkungan di masa mendatang, sekaligus memperkuat peran rumah ibadah dalam upaya pelestarian lingkungan secara lebih luas.
Dirjen Bimas Islam, Kamaruddin Amin mengungkapkan pentingnya masjid untuk menjadi pelopor gerakan konservasi lingkungan di tengah meningkatnya isu perubahan iklim.
“Perubahan iklim adalah tantangan serius, dan masjid sebagai pusat gerakan sosial harus ikut merespons isu ini,” ujarnya, Selasa malam (1/10).
Sebagai langkah konkret, Kamaruddin mengusulkan agar pesan-pesan pelestarian lingkungan disampaikan dalam khotbah Jumat untuk meningkatkan kesadaran umat terkait pentingnya menjaga alam.
Selain itu, Kamaruddin juga mendorong penggunaan teknologi ramah lingkungan di masjid, seperti energi terbarukan dan pengelolaan sampah yang baik, sebagai bagian dari dakwah bil hal (dakwah melalui tindakan nyata). “Masjid yang sering dikunjungi jemaah dapat menjadi contoh dalam pengurangan jejak karbon dan penerapan gaya hidup berkelanjutan,” jelasnya.
Keterlibatan agama dan rumah ibadah dalam isu lingkungan, menurutnya, akan mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada target nomor 13 tentang climate change.
“Karenanya, simposium ini menjadi wadah untuk bertukar gagasan mengenai peran agama dalam menghadapi tantangan ekologis global,” pungkas Kamaruddin.
Wcp/Mr



