Jakarta, Bimas Islam – Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah (Urais Binsyar) Kementerian Agama melalui program Bantuan Syariah bekerja sama dengan Yayasan Garda Inovasi Nusantara Initiative (GW GARDA) dan PC Fatayat NU Jakarta Selatan menggelar Workshop Pemulasaraan Jenazah. Kegiatan yang berlangsung di Gedung PCNU Jakarta Selatan, Sabtu (27/9/2025), diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai kalangan, khususnya kader Fatayat NU.
Analis Kebijakan Ahli Muda Subdirektorat Hisab Rukyat dan Syariah, Ahmad Achwani, mewakili Direktur Urais Binsyar, menyampaikan bahwa pemulasaraan jenazah adalah ibadah sekaligus kewajiban syariat yang harus dipahami dengan benar. “Mengurus jenazah bukan sekadar kewajiban sosial, tetapi bagian dari penghormatan terakhir kepada sesama Muslim sesuai tuntunan agama,” ujarnya.
Achwani menegaskan, masih banyak masyarakat yang memandang pemulasaraan jenazah sebagai hal menakutkan atau menjijikkan. Padahal, menurutnya, memandikan, mengafani, hingga menguburkan jenazah adalah ladang pahala besar yang bernilai ibadah. “Melalui workshop ini, kita ingin menghapus stigma itu dan mengembalikan pemulasaraan pada makna syariatnya,” jelasnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam pemulasaraan jenazah, terlebih ketika jenazah adalah perempuan. “Kader perempuan harus memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai, sehingga pemulasaraan berjalan sesuai adab dan menjaga martabat almarhumah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Achwani menyampaikan bahwa Kementerian Agama melalui Urais Binsyar akan terus mendukung pelatihan seperti ini, baik dari sisi fasilitasi maupun penguatan pemahaman syariat. “Workshop ini bagian dari upaya Kemenag memastikan hak-hak umat Muslim terpenuhi, termasuk dalam proses pemulasaraan,” terangnya.
“Bantuan Syariah yang kami salurkan diharapkan tidak hanya mendukung teknis kegiatan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif umat untuk siap menghadapi momen duka dengan penuh adab dan ketaatan pada syariat,” pungkas Achwani.
Ketua PC Fatayat NU Jakarta Selatan, Siti Rohana, dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa workshop ini sangat penting untuk membekali kader perempuan dengan keterampilan pemulasaraan jenazah. “Kader Fatayat harus siap menjadi garda terdepan dalam memberikan penghormatan terakhir kepada umat, terutama kaum perempuan,” ujarnya.
Rohana menjelaskan, keterampilan pemulasaraan jenazah tidak hanya dibutuhkan saat menghadapi kematian di keluarga, tetapi juga di tengah masyarakat. “Sering kali keluarga bingung atau tidak siap, sehingga keberadaan kader perempuan yang terlatih sangat dibutuhkan,” imbuhnya.
Ia juga menekankan bahwa memandikan dan mengafani jenazah tidak boleh dipandang dengan rasa takut atau jijik. “Justru inilah ladang amal jariyah yang bisa menjadi bekal bagi kita di akhirat,” katanya.
Menurut Rohana, melalui workshop ini para kader tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik lapangan, termasuk menghadapi kondisi jenazah tertentu seperti penderita penyakit menular. “Kami ingin kader benar-benar siap, baik secara mental maupun teknis, sehingga pemulasaraan tetap aman dan sesuai syariat,” jelasnya.
Selain aspek keterampilan, Fatayat NU juga mendorong penanaman nilai keikhlasan dalam setiap proses pemulasaraan. “Merawat dengan ikhlas dan menghantarkan dengan doa adalah pesan penting yang harus dipegang oleh setiap kader,” terang Rohana.
Ia menambahkan, keterlibatan kader perempuan dalam pemulasaraan juga menjadi bentuk keberdayaan perempuan Muslim di tengah masyarakat. “Dengan bekal ini, kader Fatayat mampu hadir memberi solusi nyata dalam kehidupan sosial-keagamaan umat,” tegasnya.
“Harapan kami, setelah pelatihan ini, kader Fatayat bisa menularkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh kepada lingkungan sekitar. Sehingga semakin banyak perempuan yang siap menjalankan amanah syariat dengan baik,” pungkas Rohana.
An/Mr



