Kota Jambi, bimasislam-- Dalam rangka melestarikan kesenian Islam Kementerian Agama terus mendorong masyarakat untuk kembali menghidupkan berbagai kesenian yang dulu pernah populer sebagai sarana dakwah para ulama. Beberapa kesenian tersebut diyakini sebagai saksi perkembangan Islam di Nusantara dan mampu menjadi benteng atas gempuran budaya dari luar.
Kali ini, Kementerian Agama menggelar Festival Budaya Islam dengan mengangkat ‘’Tema Jambi Menabuh 2018’’. Festival tahun ini dikhususkan pada tiga kesenian yang telah berkembang di Provinsi jambi, yaitu Hadrah, Rebana Klasik dan Kompangan.
Sebanyak 330 peserta yang tergabung dalam 33 group kesenian bercirikhas tabuhan tangan mengikuti festival ini, mereka berasal dari 11 Kabupaten/Kota se Provinsi Jambi. Festival ini diselenggarakan selama tiga hari, dimulai dari tanggal 26 s.d. 28 April 2018, dipusatkan halaman di Asrama Haji Prov. Jambi. Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Penerangan Agama Islam, Khoirudin dengan ditandai pemukulan gong.
Dalam sambutannya, Khoirudin mengatakan pemerintah akan berkomitmen untuk melestarikan budaya dan kesenian Islam, termasuk kesenian diluar musik.
’’Kami telah berkomitmen mendorong pelestarian kesenian Islam, baik itu seni musik seperti Hadrah, Syair, Seni kaligrafi dan yang lainnya’’, ujarnya.
Saat ini, lanjut Khoirudin, kesenian Islami khas Indonesia adalah aset berharga dan banyak diminati oleh negara lain. Menurutnya peluang ini harus dimanfaatkan dengan melakukan ’ekspor ’ kesenian Islam Indonesia agar dapat mewarnai perkembangan sejarah Islam di dunia.
’’Kesenian Islam kita telah diminati oleh negra negara lain, ini kesempatan kita ’ekspor’ kreatifitas anak anak kita’’, terangnya.
Sementara itu, Ketua DPP Lembaga Seni Qasidah Indonesia (LASQI) yang juga Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Tarmizi Tohor menegaskan kesenian seperti musik religi dapat dijadikan alat tangkal atas kebudayaan dari luar yang tidak sesuai dengan nilai nilai Islam.
’’Sebagai bangsa dengan populasi penduduk Islam terbesar di dunia sudah semestinya kita memiliki daya tangkal atas budaya yang datang dari luar, kesenian seperti Hadrah, Rebana dan Kompangan khas Jambi saya kira bisa menjadi penangkalnya’’, tegas mantan Kakanwil Riau ini.
Ribuan jamaah tampak antusias menyaksikan malam pertama seusia acara pembukaan. Hadir pula Kanwil Kemenag Prov. Jambi, Muhammad. Hadir pula perwakilan dari Pembimas Kristen dan Hindu.
Penulis: Syamsuddin
Editor: Syamsuddin
Foto: bimasislam
Sekretariat Ditjen Bimas Islam
Kemenag Ingatkan Peran Strategis Masjid sebagai Pemersatu Umat
Surabaya, Bimas Islam — Kementerian Agama mengingatkan pentingnya mengoptimalkan peran masjid sebagai pemersatu umat sekaligus pusat dakwah, pendidikan, dan…



