Surakarta, Bimas Islam — Kementerian Agama (Kemenag) menghidupkan semangat moderasi beragama dengan menggali sejarah seni budaya Islam dari Mataram hingga Surakarta melalui kegiatan Ngopi Seni Budaya di Solo. Acara yang berlangsung Kamis–Sabtu (14–16/8/2025) ini mengusung tema “Menenun Spirit Islam dari Mataram ke Surakarta: Tafsir Budaya dalam Sejarah Jawa”.
Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Ahmad Zayadi, mengatakan, seni dan agama memiliki hubungan erat dalam membentuk kehidupan yang harmonis. “Teologi dalam seni budaya Islam memandang keindahan sebagai refleksi dari keagungan Sang Pencipta. Seni bukan sekadar estetika, tetapi bagian dari ibadah yang memperhalus jiwa dan membentuk karakter santun,” ujarnya, Kamis (14/8/2025).
Menurutnya, seni adalah bahasa universal yang mampu menembus batas sosial, budaya, dan politik. Nilai agama yang disampaikan melalui seni dapat lebih menyentuh sisi emosional manusia.
“Sejarah Islam mencatat banyak ulama dan sufi yang berdakwah melalui seni, mulai dari musik, puisi, hingga sastra. Tradisi ini relevan hingga kini,” tambahnya.
Zayadi juga menekankan peran seni budaya dalam menjaga stabilitas sosial. Kearifan lokal yang berpadu dengan nilai agama dinilai dapat menjadi jembatan antara ajaran dan kehidupan sosial. “Jangan sampai kita membid’ahkan atau memusyrikkan tradisi yang justru memperkaya dakwah,” tegasnya.
Sementara itu, Kasubdit Seni, Budaya, dan Siaran Keagamaan Islam Kemenag, Wida Sukmawati, menjelaskan, kegiatan ini merupakan tindak lanjut hasil monitoring lapangan di Surakarta. “Kota ini memiliki sejarah luar biasa terkait Kerajaan Mataram dan perkembangan nilai Islam. Salah satunya terlihat dari kesenian hadrah Santri Suaran,” ungkapnya.
Ia menambahkan, Ngopi Seni Budaya menjadi ruang diskusi santai namun bermakna untuk membahas sejarah, integrasi Islam dengan budaya lokal, serta perkembangan peradaban Islam di Surakarta. “Kami mengundang akademisi, tokoh publik, dan pihak terkait untuk menggali sejarah dan nilai Islam secara komprehensif. Hasilnya akan menjadi bahan untuk Ngaji Budaya dan pagelaran seni budaya Islam,” pungkasnya.
Ba/Mr



